Latest News :
Tampilkan postingan dengan label Pendakian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendakian. Tampilkan semua postingan

Jangan Jadikan Mie Instant Sebagai Andalan dalam Pendakian

Minggu, 13 Oktober 2013 | 0 komentar


Tiap pendaki gunung dianjurkan untuk membawa banyak makanan selama perjalanan. Tujuannya untuk mengantisipasi kemungkinan waktu pendakian yang molor karena cuaca atau tersesat.

Perjalanan yang mendaki dan medan sulit tentu membutuhkan banyak tenaga. Karenanya, para pendaki harus menyiapkan panganan yang sarat karbohidrat, protein, gula, dan vitamin. "Harus diingat, jangan pernah menjadikan mi instan sebagai makanan pokok selama pendakian," tulis Harley Bayu Sastha dalam buku Mountain Climbing for Everybody.

Menurut Harley, mi instan memang praktis sebagai asupan kala berkemah. Peserta kemping selama 1-2 hari bisa menahan lapar dengan mi instan. Tapi, panganan ini bukan menu yang tepat bila dibawa dalam pendakian yang membutuhkan waktu hingga berhari-hari. "Sebab mi instan dapat menarik cairan tubuh dengan sangat cepat," kata dr. Cico, seperti yang dikutip dalam buku Harley.

Sejak 1990, dr. Cico menjadi dosen di Fakultas Kedokteran Bidang Forensik, Universitas Kristen Indonesia, Jakarta. Dikenal sebagai dokter gunung, Cico menjelaskan bahwa kekurangan cairan bisa membuat pendaki merasa cepat lelah.

"Akibatnya mereka kehilangan cara berpikir hingga sering salah mengambil keputusan. Karenanya pendaki harus mengirit cairan dalam tubuh," kata Cico.

Atas pertimbangan itu, para pendaki disarankan untuk tidak mengandalkan mi instan. Makanan kemasan ini hanya boleh disantap sebagai selingan saja. Misalnya dimakan dua hari sekali, atau kala menemukan lokasi istirahat yang banyak sumber airnya. "Untuk pendakian, sebaiknya mengantongi cokelat, biskuit, roti, atau havermouth," ujarnya.
Continue Reading

Jangan Panik Ketika Tersesat di Gunung

| 0 komentar


Sebelum mendaki gunung, setiap pendaki disarankan membawa persediaan makanan dan minuman yang banyak. Tujuannya, untuk mengantisipasi kemungkinan waktu pendakian yang molor karena cuaca atau tersesat.

Apabila tersesat di pegunungan, jangan panik! itulah pesan dari Harley Bayu Sastha, penulis buku Mountain Climbing for Everybody. Kondisi tenang atau tidak panik, kata Harley, berguna untuk menjaga stamina dan keselamatan fisik.

Ketenangan juga dapat berdampak pada kejernihan pikiran sehingga pendaki mampu menyelamatkan diri dari ketersesatan.  Selain dua hal itu, Harley memberikan beberapa tip bagi pendaki agar tidak tersesat di gunung.

1. Kala tersesat, jangan pernah turun ke lembah. Naiklah ke dataran yang lebih tinggi agar mudah melakukan orientasi medan.

2. Tiap pendaki harus memiliki tekad atau kemauan hidup. Tidak cuma ingin terbebas dari ketersesatan. Niat inilah yang akan memberikan mereka semangat mencari jalan keluar dan tidak menyerah.

3. Kala mendaki, jangan jadikan puncak sebagai tujuan. Pendakian harus dilalui dengan proses sepanjang perjalanan sehingga Anda dapat kembali turun dengan selamat.

4. Jangan pernah merasa sebagai orang yang kuat, hebat, dan jago. Meski telah sering menanjak gunung, Anda tetap harus waspada dan mempelajari medan yang ditempuh.

5. Sekitar 80 persen pecinta alam meninggal di gunung dalam posisi tengah tidur atau istirahat. Sebab sewaktu lelah, si pendaki tidur dalam kondisi badan tak terlindungi dengan baik. Sehingga hawa dingin menyergap badan dan menurunkan suhu tubuh. Akibatnya, tingkat kesadaran akan turun drastis.
Continue Reading

Sepuluh Benda Yang Harus Dibawa Seorang Pendaki

| 1komentar



Bawalah barang secukupnya kala mendaki gunung. Begitulah saran dari penulis buku Mountain Climbing for Everybody, Harley Bayu Sastha. Dalam tiap perjalanan, para pendaki disarankan membawa beban sepertiga dari bobot tubuh mereka, sekitar 15-20 kilogram.

Untuk mencapai berat bawaan itu, para pendaki harus memilah perkakas mereka. Menurut Harley, ada sejumlah benda yang wajib dibawa kala mendaki.

1. Sepatu boots
Sepatu berbahan kulit atau kain kanvas sangat dianjurkan dalam mendaki gunung. Apalagi bila anti-air. "Yang pasti, carilah sepatu berkulit tebal agar tak mudah robek dalam perjalanan," kata Harley dalam bukunya.

Sepatu dengan ujung tebal juga sangat bermanfaat. Sebab, dapat melindungi jari kaki jika tersandung. Selain itu, pilihlah alas kaki dengan sol yang mampu mencengkeram permukaan tanah agar tidah mudah terpeleset. "Lubang ventilasi pada sepatu juga bagus untuk pendakian."

2. Kaus kaki
Kaus kaki sangat diperlukan untuk menghindari lecet. Gunakanlah dua pasang kaus kaki dalam tiap perjalanan. Pertama, pakai kaus kaki wool yang menghangatkan telapak kaki, kemudian kaus kaki sintetis yang menyerap keringat.

3. Celana
Untuk pendakian, ada baiknya menggunakan celana berbahan ringan, seperti terbuat dari katun tipis yang mampu menyerap keringat. Selain mudah kering, celana ini tidak menambah berat meski dalam keadaan basah. "Bawa juga celana wind and water proof, sangat berguna ketika hujan," ujarnya.

4. Baju berbahan katun
Selain celana, baju berbahan katun juga nyaman dipakai dan menyerap keringat. Sediakan juga baju berbahan wool serta kemeja flanel lengan panjang. Pakaian ini mampu menghangatkan badan.

5. Jaket
Benda ini yang tak boleh ketinggalan. Sebaiknya bawa jaket yang ringan, tapi kuat serta hangat. Bila tak ada, bawalah sweater wool. "Wind and waterproof jacket juga wajib diboyong kala mendaki gunung," ujar Harley.

6. Topi dan sarung tangan
Selain untuk menghangatkan, dua benda ini dapat melindungi kulit dari cedera akibat duri, ranting, atau bebatuan tajam. Topi, seperti topi rimba, pun mampu menutup kepala dari panas serta hujan.

7. Lampu senter dan pisau
Pada saat membawa lampu senter, jangan lupa menyiapkan baterai cadangan. Selain itu, dianjurkan membawa berbagai jenis pisau: pisau saku serba guna, pisau golok, dan pisau pinggang.

8. Perlengkapan tidur
Untuk kegiatan istirahat, bawalah satu pasang pakaian khusus, termasuk kaus kaki. Kantung kasur dan matras juga perlu dibawa sebagai alas tidur. Perkakas ini diperlukan agar para pendaki dapat beristirahat dalam kondisi bersih hingga tak mudah terjangkit penyakit.

9. Perlengkapan memasak
Korek api, spiritus, parafin, panci, sendok, cangkir, piring, serta alat masak lapangan adalah benda wajib diboyong kala mendaki. Begitu juga dengan 1-2 liter air bersih. Namun Anda tidak harus membawa benda ini dalam backpack sendiri. Melainkan dapat membaginya dengan teman seperjalanan.

10. Alat navigasi dan obat-obatan
Anda tak harus membawa segala obat-obatan. Cukup obat umum, seperti perban, obat merah, atau plester, obat batuk dan diare, serta obat-obatan pribadi.

Continue Reading

10 Larangan Saat Mendaki Gunung

| 1komentar


Persiapan fisik sudah dilakukan, perlengkapan selama mendaki sudah disediakan, informasi seputar gunung tujuan pun telah dipelajari. Kini waktunya untuk melakukan pendakian.

Namun, sebelum berangkat, Harley Bayu Sastha, penulis buku Mountain Climbing for Everybody, mengingatkan sejumlah larangan yang sebaiknya dihindari selama perjalanan.

 

1. Jangan menyelonong ke kawasan pendakian tanpa melapor ke petugas setempat. Hal ini berguna jika cuaca buruk mendera dan Anda terjebak di jalur pendakian sehingga mereka dapat melakukan pencarian.
 

2. Jangan merusak rambu-rambu atau tempat perlindungan di jalur pendakian. Hindari pula konflik dengan penduduk. Ikutilah aturan serta budaya setempat.
 

3. Jangan mendaki dengan langkah terlalu besar. Selain menguras tenaga, hal ini bisa mengurangi keseimbangan tubuh. Berjalanlah dengan langkah kecil.
 

4. Jangan memotong lintasan yang telah tersedia di jalur pendakian. Selain medannya lebih terjal, menerobos lintasan dapat merusak rute pendakian. Sebaiknya ikuti jalan setapak yang telah tersedia karena konturnya berbelok dan tak terlalu terjal.
 

5. Jangan merusak atau mencorat-coret bebatuan serta pohon.
 

6. Jangan buang sampah sembarangan. Sebaiknya sampah dikemas ke dalam tas atau kantung plastik dan kembali dibawa ke pintu masuk pendakian, tentunya setelah menemukan tempat pembuangan sampah.
 

7. Jangan mendirikan tenda di dekat aliran sungai, danau, atau air terjun. Selain terhindar dari kemungkinan banjir, Anda pun memberikan kesempatan hewan liar untuk meminum air sungai itu.
 

8. Jangan beristirahat atau tidur sambil mengenakan pakaian basah. Gantilah baju, celana, serta kaus kaki dengan yang bersih serta kering agar terhindar dari serangan penyakit.
 

9. Janganlah menyalakan api unggun bila tidak memerlukannya. Kalaupun harus membuat api unggun, gunakanlah batang atau ranting pohon yang telah rubuh dan mati. Kemudian, pastikan api benar-benar mati kala meninggalkan lokasi itu.
 

10. Jangan meninggalkan benda apa pun, terutama sampah, di area perkemahan. Selain mencemarkan lingkungan, benda asing itu dapat melukai hewan liar yang ada di sana.

Continue Reading

5 Gunung di Indonesia Dengan Rute Pendakian Terindah

Jumat, 30 Agustus 2013 | 1komentar

5 Gunung Indonesia Dengan Rute Pendakian Terindah ini hanyalah salah satu dari sekian banyak unik dan indahnya alam gunung Indonesia. Letak geologis Indonesia memiliki posisi yang unik, yaitu, berada di pusat tumbukan Lempeng Tektonik Hindia - Australia, Lempeng Eurasia dan Lempeng Pasifik, sehingga banyak bermunculan gunung - gunung dengan panorama alam yang indah di kawasan Indonesia.

Berikut beberapa gunung yang memiliki keindahan alam dan menjadi destinasi favorit para pendaki Indonesia maupun Internasional.

1 Pegunungan Jayawijaya
Tidak salah jika para pendaki gunung memiliki keinginan besar untuk menggapai puncak tertinggi di Indonesia sekaligus di kawasan Oceania, Pegunungan Jayawijaya atau juga dikenal Pegunungan Cartenz ( 4.800 Mdpl ).
Terletak di Papua Barat, Pegunungan Cartenz merupakan deretan pegunungan yang terbentang memanjang di tengah Pulau Papua, dengan puncaknya bernama Cartenz Pyramide. Pegunungan Cartenz masuk dalam jajaran Tujuh Puncak Dunia ( Seven Summit ).

Sehingga banyak pendaki gunung dari penjuru dunia datang ke Gunung Cartenz untuk merasakan satu - satunya gunung di Indonesia yang puncaknya di selimuti salju abadi. Meskipun terletak di ketinggian yang berselimut salju di puncaknya, pegunungan ini ternyata terbentuk karena adanya pengangkatan dasar laut yang terjadi ribuan tahun yang lalu.

Ini dibuktikan dengan ditemukannya fosil kerang laut yang dapat dilihat di batuan gamping di pegunungan tersebut. Sehingga tak heran bila pegunungan ini menjadi surga bagi ahli Geologi selain surga bagi para pendaki gunung.

2. Gunung Rinjani
Berlokasi di Pulau Lombok, Gunung Rinjani ( 3.726 Mdpl ) merupakan gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia dan sekaligus sebagai puncak tertinggi di kepulauan Nusa Tenggara dan Bali. Di bagian barat kerucut Gunung Rinjani terdapat Segara Anak, sebuah danau di ketinggian 2000m dengan luas 11 juta m persegi dan kedalaman 230 m.
Air yang mengalir dari danau ini membentuk air terjun yang mengalir melewati jurang yang curam. Di tempat ini biasanya digunakan untuk berkemah dan memancing karena banyak terdapat ikan mas dan mujair. Untuk mencapai puncak Gunung Rinjani dibutuhkan waktu sekitar 3 hari 2 malam. Namun, perjuangan melalui medan yang berat terbayar sempurna dengan pemandangan alam yang indah bagi para pendaki .

Dari puncak Rinjani ini, kalian dapat melihat jelas Gunung Agung di Bali, Gunung Ijen - Merapi di Banyuwangi dan Gunung Tambora di Sumbawa saat cuaca bagus di pagi hari.

Waktu terbaik untuk mengunjungi Gunung Rinjani adalah pada bulan Juni - Agustus. Untuk menuju Gunung Rinjani kalian dapat menggunakan kendaraan umum dari Mataram menuju ke desa Sembalun ataupun desa Senaru sebagai gerbang pendakian Gunung Rinjani.

3. Gunung Kelimutu
Terletak di Pulau Flores, NTT, Indonesia, Gunung Kelimutu ( 1.639 Mdpl ) merupakan gunung berapi yang memiliki fenomena alam yang unik dengan kehadiran Danau Tiga Warna di puncak Gunung Kelimutu. Luas ketiga danau itu sekitar 1.051.000 meter persegi dengan volume air 1.292 juta meter kubik.
 Warna - warna danau tersebut selalu berubah seiring dengan perjalanan waktu. Fenomena alam Danau Tiga Warna, sampai sekarang masih menjadi misteri para ahli geologi dunia karena tidak dapat dipastikan perubahan warna pada danau tersebut.

4. Gunung Semeru
Puncak tertinggi di Pulau Jawa terletak di Puncak Mahameru, Gunung Semeru ( 3.676 Mdpl ). Gunung Semeru terletak di perbatasan antara kota Malang dengan Lumajang. Untuk mencapai Puncak Mahameru diperlukan waktu sekitar empat hari. Tentunya dengan waktu tempuh tersebut, kita harus mempersiapkan segala kebutuhan perjalanan kita secara matang.
Menyusuri lereng bukit yang ditumbuhi bunga Edelweiss, cemara, padang rumput dan pinus merupakan menu visual yang menghiasi pendakian kalian menuju Puncak Mahameru. Melewati Ranu Kumbolo, sebuah danau yang berada pada ketinggian 2.400 m dengan luas 14 ha memberikan panorama alam indah yang dapat menyaksikan matahari terbit disela - sela bukit.

Namun ketika sampai di wilayah Arcopodo, sebuah wilayah vegetasi terakhir di Gunung Semeru, sebaiknya semua barang bawaan yang membebani ditinggal. Karena pendakian menuju Puncak Mahameru melewati bukit pasir yang curam dan mudah merosot.

Waktu terbaik untuk mendaki Puncak Mahameru adalah dinihari sekitar jam 2 pagi, sebab pada siang hari gas beracun mulai berhembus dari kawah Jonggring Saloka.

5. Gunung Kerinci
Gunung Kerinci ( 3.805 Mdpl ) adalah gunung berapi tertinggi di Indonesia yang masih aktif. Keindahan panorama yang natural dengan kekayaan flora dan fauna di temui mulai dari dataran rendah hingga puncak gunung Kerinci.
Tak hanya untuk dinikmati tetapi sangat baik untuk melakukan penelitian dan pendidikan. Pendakian ke puncak gunung Kerinci memakan waktu dua hari dimulai dari Pos Kersik Tuo.

Di kawasan gunung Kerinci juga terdapat surga tersembunyi, Danau Gunung Tujuh, sebuah telaga dengan kawah di ketinggian 2000m dikelilingi perbukitan di sekitar Kerinci yang hampir tak tersentuh.


sumber: belantaraindonesia.org
Continue Reading

Mencegah Kedinginan Saat Mendaki

| 1komentar


Kedinginan saat mendaki gunung? Sudah biasa terjadi.

Tapi bila anda melakukan persiapan yang matang sebelum mendaki rasa dingin tersebut bisa di atasi.

Ada Beberapa cara yang bisa anda lakukan untuk mencegah hawa dingin udara pegunungan agar tidak masuk ke dalam tubuh anda,

Penyesuaian diri
Beradaptasilah dengan lingkungan di pegunungan. Proses yang disebut Aklimatisasi ini perlu dilakukan setelah tubuh merasa cocok barulah mulai mendaki.

Jaket anti air
Pakailah baju yang dapat menahan panas tubuh, Memakai jaket tebal sangat diperlukan. Sangat disarankan untuk membawa jaket yang berjenis anti air karena biasanya lapisan luarnyaterbuat dari bahan polar.

Slepping bag
Untuk mendapatkan kehangatan saat tidur, gunakanlah slepping bag. Barang ini merupakan yang paling penting untuk dibawa, karena dapat menambah kehangatan saat tidur selain dari jaket.

Jangan bawa baju bahan jeans
Bahan jeans sangat berat utnuk dibawa mendaki, jeans akan membuat Anda tambah kedinginan karena sifatnya yang bisa menyerap dingin.

Buat api unggun
sambil mendaki kumpulkan ranting pohon untuk membuat api unggun saat malam hari. Ini akan membantu menghangatkan tubuh anda

Lakukan peregangan
Saat istirahat mendaki lakukan peregangan otot, peregangan juga membantu mengusir rasa dingin.
Continue Reading

Cara Mencegah Hipotermia

Minggu, 02 Desember 2012 | 0 komentar



Cara mencegah Hipotermia ini sangat diperlukan dalam kegiatan pendakian gunung. Mendaki gunung memang memerlukan kesiapan fisik, mental, peralatan, pengetahuan dan perbekalan yang menunjang kegiatan tersebut. Dan banyak musibah yang terjadi karena kekurangan hal – hal tersebut di atas. Atau bisa juga karena minimnya pengetahuan tentang survival sehingga Hipotermia bisa melanda.

Yang terpenting dalam kegiatan mendaki gunung atau kegiatan di luar ( outdoor activity ) adalah persiapan dan pengetahuan. Salah satunya mengetahui faktor apa penyebab hipotermia, gimana mencegah hal itu terjadi, apa aja yang perlu dilakukan dan juga tindakan apa yang perlu dilakukan apabila mulai merasakan kedinginan.

CARA MENCEGAH HIPOTERMIA

1. Usahakan apabila mendaki gunung jangan memakai kaos dari katun. Bahan katun jika basah oleh keringat sulit keringnya. Ini biasanya menyebabkan menggigil kedinginan walaupun sudah memakai jaket tebal. Sebaiknya memakai bahan sintetis ( polyester / spandex / nylon ) yang menyerap keringat dan berlengan panjang. Memang masih bisa ganti kaos, tetapi di gunung yang sering hujan mengeringkan kaos jadi pekerjaan tersendiri. Mengeringkan menggunakan api unggun, sebaiknya jangan. Kasihan hutan kita. Cobalah mengurangi konsumsi kayu kecuali itu sangat darurat. Membawa satu baju tetapi tetap kering, akan sangat berbeda hasilnya dengan membawa 3 baju tetapi basah semua.

2. Membawa bekal yang cukup untuk mendaki gunung. Bekal praktis seperti coklat batangan, muesli bar, atau energy booster ( seperti gel dengan glukosa, biasanya dipakai para pesepeda ) sangat berguna sebagai cadangan makanan yang ringan dibawa dan menghasilkan energi yang baik. Juga biasakan mengamati sekitar, jika melewati air sungai atau daun – daunan yang kita kenali bisa dimakan apabila mendesak.

3. Menjaga tubuh tetap kering dan hangat. Salah satunya selalu membawa ponco, bagaimanapun kondisinya. Kalau mempunyai baju dan jaket tahan air ( gore-tex based ) juga bisa ( tetapi ini mahal di harga ). Jangan lupa kaos tangan dan kaos kaki. Khusus kaos kaki membawa ekstra jika perlu.

4. Kalau berjalan sendiri siapkan piranti darurat komunikasi, kalau dengan teman harus saling menjaga. Handphone terkadang kurang efektif karena tidak adanya sinyal. Bawa alat darurat sinyal seperti peluit atau cermin. Biasakan saling memperhatikan pendaki lain ketika naik atau turun.

5. Jangan paksakan berjalan terus apabila kelelahan. Berhenti, pasang tenda dan membuat makanan atau minuman yang cepat dihidangkan, seperti teh manis atau sup instant. Paksakan walaupun kurang suka, karena makanan adalah sumber energi untuk tetap berjalan. Selain itu, makanan juga membuat tubuh menjadi hangat karena memulai metabolisme tubuh.

6. Membawa selimut darurat ( emergency blanket or space blanket ). Ini mungkin sudah ada di Indonesia. Bentuknya seperti lapisan aluminium foil yang tipis dan dipakai untuk menyelimuti tubuh. Fungsinya : membuat tubuh tetap hangat, merefleksikan sinar matahari dan tidak kehujanan. Space blanket ini hanya bersifat memantulkan panas tubuh. Untuk mendapatkan hasil maksimal bisa dibawa Bivy Sack yang terbukti lebih baik hasilnya. Bentuknya seperti selimut plastik, dengan berat sekitar 200 gr. Ditanggung lebih tahan lama dari space blanket.

7. Penghangat tubuh sementara ( body warmer ). Ini semacam plester tubuh apabila kedinginan. Biasa dipakai untuk yang melakukan olahraga ektrem di salju ( ski, ice climbing, mountaineering ) . Kelemahannya : hanya bisa dipakai sekali saja dengan durasi 12 jam. Karena bentuknya tipis dan ringan, biasanya diselipkan di jaket kalau kondisi cuaca dan badan memburuk.

Sekali lagi saya ingatkan dengan alat yang memadai tapi tidak tahu bagaimana menggunakan, hasilnya juga tidak optimal. Jadi baca dan simak bagaimana melakukan teknik dasar survival di gunung. Bisa membaca, bertanya atau dari pengalaman yang terus diasah.
(sumber : belantaraindonesia.org)
Continue Reading

Membuat Bivak Yang Aman

| 0 komentar



Bivak adalah salah satu ketrampilan dalam mempertahankan hidup dialam terbuka (survive) yang harus dimiliki seorang petualang bila tersesat di hutan, gunung. Bivak adalah tempat untuk berlindung dan bermalam di hutan. Membuat tempat perlindungan jadi penting ketika terjadi hal-hal darurat. Padahal, bivak tak hanya dibuat ketika darurat saja, tetapi juga dipakai pada saat membuat camp sementara, artinya faktor kenyamanan harus menjadi prioritas.

Ada beberapa syarat yang harus diperhatikan ketika kita memutuskan untuk membuat bivak, yaitu jangan sekali-kali membuat bivak pada daerah yang berpotensi banjir pada waktu hujan. Di atas bivak hendaknya tak ada pohon atau cabang yang mati atau busuk. Ini bisa berbahaya kalau runtuh.
Di daerah tempat kita akan mendirikan bivak hendaknya bukan merupakan sarang nyamuk atau serangga lainnya. Kita juga perlu perhatikan bahan pembuat bivak. Usahakan bivak terbuat dari bahan yang kuat dan pembuatannya baik. Bahan dasar untuk membuat bivak bisa bermacam-macam. Ada yang dibuat dari ponco (jas hujan plastik), lembaran kain plastik (flysheet) atau memanfaatkan bahan-bahan alami, seperti daun-daunan, ijuk, rumbia, daun palem, dan lainnya. Tapi yang paling penting, kesemua bahan dasar tadi sanggup bertahan ketika menghadapi serangan angin, hujan atau panas.
Selain bahan yang bermacam-macam, bentuk bivak pun amat beragam. Semuanya disesuaikan dengan kebutuhan. Tak harus berbentuk kerucut atau kubus, modelnya bisa apa saja. Ini amat bergantung pada kreativitas kita sendiri. Membuat bivak merupakan seni tersendiri karena kreasi dan seni seseorang bisa dicurahkan pada hasilnya.
Sebagai contoh, one man bivak. Pembuatannya dengan menancapkan kayu tiang pokok yang tingginya sekitar 1,5 meter. Letakkan di atasnya sebatang kayu yang panjangnya kira-kira dua meter. Ujungnya diikat kuat yang biasanya memakai patok. Lalu sandarkan potongan kayu yang lebih kecil di atasnya, yang berfungsi untuk menahan dedaunan yang akan jadi atap ”rumah” kita.
Bentuk lain dari alam yang bisa dimanfaatkan sebagai bivak yaitu gua, lekukan tebing atau batu yang cukup dalam, lubang-lubang dalam tanah dan sebagainya. Apabila memilih gua agar kita bisa memastikan tempat ini bukan persembunyian satwa. Gua yang akan ditinggali juga tak boleh mengandung racun. Cara klasik untuk mengetahui ada tidaknya racun adalah dengan memakai obor. Kalau obor tetap menyala dalam gua tadi artinya tak ada racun atau gas berbahaya di sekitarnya.
Kita juga bisa memanfaatkan tanah berlubang atau tanah yang rendah sebagai tempat berlindung. Tanah yang berlubang ini biasanya bekas lubang perlindungan untuk pertahanan, bekas penggalian tanah liat dan lainnya. Pastikan tempat-tempat tersebut tidak langsung menghadap arah angin. Kalau terpaksa menghadap angin bertiup kita bisa membuat dinding pembatas dari bahan-bahan alami. Selain menahan angin, dinding ini bertugas untuk menahan angin untuk tidak meniup api unggun yang dibuat di muka pintu masuk.
Continue Reading

Tips Merencanakan Menu Makanan saat Camping dan Naik Gunung

Sabtu, 01 Desember 2012 | 0 komentar


1. Planning

Perencanaan sebuah kamp menu tergantung pada beberapa hal:
1. Di mana lokasi perkemahan (mudah mengakses atau terpencil, dataran rendah atau dataran tinggi, dataran tingkat atau permukaan berbatu)
2. Berapa lama Anda akan berada di sana (akhir pekan, 1 minggu, 1 bulan)
3. antisipasi cuaca di camp (hujan, salju, angin, matahari)
4. Apakah ada sumber air yang dekat (sungai, danau, keran)
5. apakah jumlah dan jenis makanan terbatas pada hal2 disekitar camp (di sana banyak binatang yang membuat makanan anda sulit disembunyikan ato perjalanannya jauuu bangetz)
6. bagaimana saya membawa makanan ke kamp
Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini akan membantu untuk merencanakan menu yang tepat di perkemahan agan agan sekalian

2. menu anda harus mencakup

  • 3 kali makan per hari (sarapan, makan siang, makan malam)
  • 1x snack/hari
  • Banyak air. Jika ada sumber air di daerah itu tidak perlu khawatir. Jika Anda harus membawa air sendiri kemudian mengantisipasi memerlukan 10 liter per hari per orang.
  • Gelas / piring / peralatan. penggunaan barang yang sama akan menghemat bawaan anda (2in1 plate & glass)

3. Idealnya si makanan tu :

  • Buah-buahan dan sayuran. Mudah untuk menyimpan dan membawa. juga tahan lama (labu siem,kentang,wortel, terong, jengkol bagi yg doyan, dll)
  • Beras,bubur, sereal termasuk oatmeal. Sereal dapat mudah disimpan dalam kantong dan dibawa. Oatmeal sehat dan sangat baik saat sarapan. bubur banyak yg dijual sachetan (buburku dll), kacang ijo juga bisa dibawa walau masaknya agak lama. bubur sumsum juga oke dimakan apalagi malem2 depan api unggun…
  • ikan dan Daging. rasanya enak bener dimakan kalo kemping gan. yang perlu mendapat perhatian anda adalah cara membawanya. Jika Anda tidak dapat menyimpannya dengan benar maka jangan dibawa. lebih bagus bila dimasak terlebih dahulu(rendang,ayam ungkep,dll), kalo ikan paling asik ya bwa ikan asin ato cumi asin ato udang asin tapi jgn lupa bawa sambelnya !!
  • Minuman. banyak macemnya, mulai dari teh,kopi,bandrek,jus2an,soda dll. kopi sachetan banyak macemnya… kalo lebih suka kopi item silakan bawa gulanya ndiri, teh paling mantep si tubruk kalo ane pribadi lebih suka merk ton*c**.. jus2an banyek banget kayak nutrisari, jasjus, obama dll. soda biasanya ane bawa buat diminum di puncak.
  • snack : buat iseng iseng nambah jigong bisa juga anda bawa ager2 ato roti2an ato chiki2an. macem2 jenisnya tergantung seleranya masing masing
  • kantong sampah . selalu ada kebutuhan untuk membuang sesuatu di camp. biasakan hidup bersih di kota maupun di alam. kalo anda bawa hand antiseptic, selalu gunakan sebelum memasak.

4. Hal-hal soal makanan yang perlu dipertimbangkan:

  • Siapkan terlebih dahulu. Taruh sereal dalam kantong individu. Sama dengan havermut. Daging berbumbu dapat dilakukan di rumah dan membawa wadah zip-lock. bumbu2 seperti bawang,cabe,dll dibersihkan dahulu lalu masukkan wadah plastik yg kedap seperti tupp****re agar lebih segar.
  • Memasak. Pikirkan tentang masing-masing makanan dan apa yang dibutuhkan. Apakah Anda perlu panci dan wajan, berapa jumlah kompor yang kudu dibawa ato bahkan alumunium foil perlu ato ga ?
  • Pembersihan. Bagaimana Anda akan membersihkan peralatan & area memasak anda.

5. YANG PERLU ANDA INGAT !!

  1. Perencanaan menu kamp membutuhkan waktu .
  2. Meminta pendapat orang lain.
  3. Jika ada kekhawatiran apakah makanan dapat disimpan pada suhu tertentu maka jangan dibawa . Lebih baik untuk tetap sehat daripada risiko jatuh sakit.
  4. Rencana untuk menyimpan makanan jauh dari perkemahan Anda. bila ada hewan yang mungkin tertarik dengan makanan anda. (beruang,macan,semut, dll)
  5. hitung berapa kalori kira2 yang anda keluarkan lalu imbangi dengan jumlah kalo yang anda akan masukan.
  6. Gizi yang seimbang akan membuat fisik anda selalu fit.
Lokasi Camp yang ideal berbentuk segitiga . Di salah satu sudut adalah sisi area memasak & makanan, api unggun disisi lainnya, dan terakhir adalah area dimana tenda berada. Setiap daerah ini diberi jarak yang cukup agar aman !!
Continue Reading

Tips Jika Tersesat Di Gunung

| 2komentar


Selama dalam pendakian, ada baiknya memperhatikan keadaan alam sekitar yang bisa dijadikan tanda yang tidak mudah dilupakan, seperti tumpukan batu raksasa, pohon besar dan tinggi, pohon tumbang, dan aliran sungai. Tanda-tanda alam tersebut bisa digunakan sebagai rambu pemandu kejalur semula bila kebetulan tersesat. Bila berada pada suatu ketinggian, tiba-tiba mendengar suara musik, suara azan, suara deru motor, atau melihat cahaya lampu yang seolah-olah jaraknya tidak jauh, apalagi pada malam hari, sebenarnya kondisi seperti itu hanya tipuan pada pendengaran dan penglihatan, ketika kondisi fisik sudah melemah dan mental menurun.

Oleh karena itu, timbul keinginan untuk secepatnya menuju kearah datangnya suara atau sinar tadi. Tanpa disadari kita sudah keluar dari jalur yang mengakibatkan terjebak pada situasi medan yang menyesatkan. Jangan coba-coba melakukan jalan pintas atau potong kompas kalau tidak tahu tehniknya, apalagi bila tidak membawa peta dan kompas.

Perjalanan yang menyesatkan bisa juga karena mengikuti aliran sungai. Memang betul aliran sungai dari gunung aka mengalir kedataran rendah, mungkin juga melintasi sebuah perkampungan penduduk. Tapi harus diingat bahwa aliran sungai umumnya memiliki jeram atau air terjun yang dapat menyulitakan bahkan menyesatkan.

Bila kita sudah menyadari telah salah jalur atau tersesat, yang pertama harus kita lakukan adalah jangan panik!! lebih baik berhenti dan istirahat dulu (minum air, makan sepotong coklat) Sambil memberi tanda lokasi istirahat dengan tanda yang mencolok/mudah diingat, seperti: mengikat batang/ranting perdu, mematahkan beberapa ranting pohon/perdu, mengikat serumpun alang-alang, dan lakukan pengamatan medan sekitar.

Dari lokasi istirahat yang telah diberi tanda jejak tadi, cobalah berjalan kearah empat penjuru mata angin selama 15-20 menit. Bila belum ditemukan jalur resmi pada satu arah mata aingin setelah berjalan 15-20 menit, berilah tanda jejak pada lokasi tersebut. Kemudian kembali kelokasi semula yang telah diberi tanda jejak (lokasi istirahat). Demikian selanjutnya, pada arah mata angin yang lain bila jalur resmi belum ditemukan. 

Jarak dan waktu tempuh mencari jalur resmi bisa diperpanjang asalkan tidak lupa memberikan tanda-tanda jejak pada kawasan yang pernah dilewati. Bila tidak cukup waktu atau hari sudah menjelang sore, sebaiknya mulai mendirikan tenda kalau tidak ada dirikanlah shelter alam (bivak), jangan memaksakan diri melakukan pencarian jalur resmi dimalam hari, lebih baik digunakan untuk istirahat dan menambah kalori dengan makan dan minum. Baru keesokan harinya bisa dilanjutkan pencarian jalurnya.

Terkadang ada jalur yang tertutup semak belukar, alang-alang, dan pohon tumbang, karena jarang dilewati pendaki. Bila pencarian jalur resmi dilakukan dengan sabar dan tidak panik, percaya diri serta kal sehat, cepat atau lambat akan dapat ditemukan.

Kalau tersesat sebaiknya kita tenang dan ingat rumus : STOP

S = Stop/Seating: Berhentilah dan beristirahat dengan santai, dan berusahalah untuk tidak panik, segera hilangkan kepanikan (kalau emang sudah panik). Kalo perlu makan coklat dulu biar tenang……
T = Thinking: Berpikir secara jernih (logik) dalam situasi yang sedang dihadapi.
O = Observation: Lakukan pengamatan/observasi medan disekitar kita, kemudian tentukan arah dan tanda-tanda alam yang dapat kita mamfaatkan atau yang harus kita hindari.
P = Planning: Buat rencana dan pikirkan konsekuensinya bila kita sudah memutuskan sesuatu yang akan kita lakukan.

sumber:  anakeibune.blogspot.com
Continue Reading

Cara Menghindari atau Mencegah Mabuk Gunung

Jumat, 23 November 2012 | 1komentar



Cara mencegah mabuk gunung ini sebaiknya diketahui, karena saat di alam bebas banyak kendala yang mempersulit perjalanan kita. Antara lain adalah mabuk gunung. Hampir sama dengan istilah mabuk yang lain, mabuk gunung adalah penyakit yang menghinggapi pendaki hingga merasa ada sesuatu yang bisa berlebihan dan kekurangan. Silahkan di ketahui dan di antisipasi.

1. Menghindari Faktor Pemicu
Hal pertama yang perlu diupayakan adalah menjauhkan diri dari faktor - faktor pemicu. Meskipun tidak selalu berhubungan langsung, hal - hal berikut ditengarai sering memicu dan memperburuk mabuk gunung.

· Menambah ketinggian terlalu cepat
· Aktivitas fisik yang berlebihan ( overexertion )
· Kedinginan ( hypothermia )
· Hidrasi tidak cukup, dan
· Konsumsi alkohol atau sedatives lain.


2. Aklimatisasi
Seperti telah diketahui, penyebab mabuk gunung adalah tidak mampunya tubuh menerima kondisi di ketinggian. Ketidakmampuan itu terjadi kalau penambahan elevasi terjadi pada waktu yang terlalu singkat—lebih singkat dari waktu yang diperlukan oleh tubuh untuk menyesuaikan diri. Sebenarnya, tubuh kita bisa beradaptasi, tetapi hal itu harus dilakukan secara bertahap. Usaha ini disebut aklimatisasi.

Rumus aklimatisasi pendaki adalah climb high sleep low ( CHSL )—naik ke ketinggian tertentu, kemudian turun untuk tidur / beristirahat pada ketinggian di bawahnya. Misalnya direncanakan untuk buka camp pada ketinggian 3.600 mdpl, naiklah dulu ke 4.000 mdpl. Untuk pendakian gunung yang elevasinya > 3.600 mdpl, aklimatisasi dengan rumus ini mutlak diperlukan. Itulah sebabnya pendakian Everest bisa makan waktu lebih dari sebulan karena pendaki naik-turun berkali - kali sebelum melakukan summit attack. Gunung - gunung kita yang rata - rata 3.000 an mdpl, untuk kebanyakan pendaki bisa disikat langsung.

Selain itu, setelah melewati batas 3.000 mdpl, penambahan elevasi harus dibatasi maksimum 300 mt per hari. Selain Jayawijaya, ada empat gunung di Indonesia yang menurut hemat saya harus memperhatikan kaidah ini, yaitu Kerinci, Rinjani, Semeru, dan Slamet karena ketinggiannya melebihi 3.300 mdpl. Untuk kelima gunung ini, idealnya summit attack dilakukan dari ketinggian yang berjarak kurang dari 300 mtr vertikal dari puncak.

Dua puluh empat jam pertama berada di daerah yang tinggi, misalnya di desa terakhir ( base camp ) batasi aktivitas fisik. Meskipun demikian, pada siang hari, aktivitas ringan lebih baik dari pada tidur agar respirasi melakukan penyesuaian.

3. Nutrisi dan Hidrasi
Hidrasi sangat penting. Eksersi membuang cairan dalam tubuh, dan itu perlu diganti. Indikasi kecukupan hidrasi adalah banyak dan beningnya urine. Bila kencing sedikit, pekat, dan berwarna, berarti anda kurang minum. Makanan tinggi karbohidrat harus menjadi menu utama pendaki. Alasannya adalah bahwa 70% kalori dihasilkan oleh karbohidrat.

4. Mengenal Diri Sendiri
Yang tidak kalah penting dari semua saran di atas adalah mengenali diri sendiri. Anda harus paham betul bagaimana tubuh anda bereaksi terhadap kondisi di ketinggian karena tidak ada ciri - ciri pembeda khusus antara yang rentan dengan yang tahan. Sungguh bijaksana bila anda mau belajar merasakan dan mengenali setiap gejala yang terasa. Misalnya, membedakan antara sakit kepala yang terjadi karena eksersi berlebihan ( seperti bila anda selesai berlari sprint ) dengan nyut - nyutan gejala mabuk gunung.

Angka - angka dalam tulisan ini harus dianggap hanya sebagai patokan umum yang tidak absolut. Untuk masing - masing individu, pada prakteknya bergeser naik atau turun dari angka - angka itu. Pada akhirnya, mabuk gunung bersifat sangat personal.

Golden rule di ketinggian: bila anda mengalami tidak enak badan, pusing atau pening tetapi tidak tahu sebabnya secara pasti, anda harus menyimpulkan bahwa anda menderita mabuk gunung!

5. Mengenal Teman Satu Tim
Teman sependakian anda belum tentu mengetahui seluk - beluk mabuk gunung. Belum tentu pula mereka cukup mengenal daya adaptasi diri sendiri terhadap ketinggian. Kalau demikian keadaannya, anda yang perlu menajamkan pandangan untuk mengamati kondisi mereka. Dari pengalaman saya, gejala awal mabuk yang paling mudah diamati dari luar adalah kondisi fisik dan tingkah - laku.

Bila ada teman yang mengalami kelelahan berlebihan, amati terus keadaannya. Kalau ada yang begini, biasanya saya menguji kondisinya dengan menyodorkan makanan kecil. Kalau dia menolak, cobalah makanan lain. Kalau semua ditolak, waspada!

Ciri lain yang sering mencolok adalah social withdrawal. Kalau ada teman yang berubah perangainya menjadi lebih pendiam, ogah ngobrol, kehilangan canda, dan lebih suka menyendiri, anda harus mulai curiga. Berikutnya, ujilah juga dengan makanan. Pendeknya, bila pendaki masih rakus dan doyan ini - itu, berarti sehat!

PENANGANAN MABUK GUNUNG

1. Stop
Kalau gejala AMS mulai terasa, STOP! Jangan ngotot! Pergerakan naik harus dihentikan sampai gejala hilang. Berikan waktu yang cukup untuk tubuh melakukan adaptasi. Bila tidak ada tanda - tanda membaik, segeralah mengurangi ketinggian paling tidak 300 mtr vertikal. Bila tidak membaik juga, urungkan niat mendaki. Turunlah sesegera mungkin!

2. Mandiri
Mendaki berombongan, biasanya lebih merepotkan bila anda mengalami mabuk gunung. Naik salah, berhenti sendirian pun salah. Bagaimanapun, kalau memang harus, ditinggal sendirian di tengah hutan jauh lebih baik. Pemaksaan diri mengikuti rombongan bergerak naik justru memperbesar risiko dimakan setan. Awas, setan HAPE dan setan HACE menunggu!!! Dalam situasi darurat, beranikan diri untuk mengambil keputusan dan bertindak sendiri.

Studi menunjukkan bahwa kematian oleh mabuk gunung, terjadi lebih banyak pada pendaki yang berkelompok dari pada solo. ( Shlim DR, Houston R., Helicopter Rescues and Deaths Among Trekkers in Nepal ).

3. Berkorban
Untuk pendaki yang sehat, selayaknya bersedia mengorbankan kepentingannya mencapai puncak bila ada teman setim yang mabuk gunung. Temani si pemabuk sampai bisa dibawa naik, atau bawalah turun kalau perlu. Percayalah, pengorbanan anda bisa berarti menyelamatkan nyawa.

4. Cara Istirahat
Istirahat untuk pemabuk gunung harus diusahakan dalam keadaan sehangat dan senyaman mungkin. Pemakaian tenaga harus diminimumkan, meskipun pada perjalanan turun.

5. Yang Harus Dihindari
Rokok, alkohol, dan depresan lain termasuk obat penenang dan obat tidur harus dijauhi. Depresan akan menurunkan respirasi pada saat tidur, sehingga memperburuk gejala mabuk gunung.

6. Turun
Turun adalah resep terbaik untuk yang sudah terkena HACE atau HAPE. Cara ini relatif mudah dilakukan di gunung - gunung di Indonesia. Jadi, tidak ada yang perlu ditunggu. Turun! Bila peralatan dan anggota tim lain mampu, penderita yang sudah parah sebaiknya digotong / digendong untuk meminimumkan aktivitas fisik.

Kalau karena alasan tertentu turun tidak mungkin, korban memerlukan bantuan oksigen. Pada kasus - kasus yang lebih berat yang biasanya terjadi di gunung - gunung extremely high, penderita dimasukkan ke dalam Gumow Bag ( kantong bertekanan portable ).

7. Medikasi
Sebenarnya ada obat - obatan yang bisa membantu penderita mabuk gunung. Bahkan ada jenis tertentu yang bisa dipakai untuk membantu aklimatisasi para rescuer karena mereka harus bergerak naik dengan cepat. Tetapi saya, maaf, tidak berani menulisnya di sini. Saya khawatir yang saya tulis diambil sebagai resep resmi pendaki gunung, sementara saya bukan dokter.
Continue Reading

Penyakit Dalam Pendakian dan Cara Mengatasinya

Kamis, 15 November 2012 | 0 komentar



Aktivitas petualangan di musim hujan, seperti pendakian gunung otomatis akan meningkatkan derajat bahayanya akibat gejala alam ini. Apalagi bila musim liburan tiba. Seperti tak mau kehilangan kesempatan emas, banyak pendaki gunung tetap nekat menyalurkan hobi petualangannya tanpa mempedulikan kondisi cuaca.

Ancaman Hypothermia

Cuaca di gunung memang tidak bisa ditebak. Apalagi pada bulan-bulan basah. Meski gunung di Indonesia rata-rata hanya berketinggian sekitar 3.000 m dpl, tetapi pada musim hujan, badai gunung yang menyertai hujan sering menyerang dan mampu menurunkan suhu udara hingga mencapai di bawah titik beku atau di bawah 0 derajat celcius.
Bagi para pendaki gunung yang tidak siap dengan fisik, mental serta perlengkapan yang memadai, kondisi ini bisa menjadi sebuah malapetaka besar. Karena suhu udara sedingin itu, merupakan kondisi yang sangat asing bagi tubuh manusia, apalagi bagi orang-orang yang tinggal di daerah tropis seperti Indonesia.

Hypothermia merupakan salah satu gejala penyakit di ketinggian yang sering menyerang para pendaki gunung. Bahkan di Indonesia, hypothermia menduduki peringkat teratas sebagai ancaman maut serta “hantu” pencabut nyawa paling kejam bagi para pendaki gunung. Lalu apa dan bagaimana sebenarnya hypothermia itu hingga bisa menjadi ancaman bak momok yang menakutkan bagi para pendaki gunung?

Penyakit hypothermia merupakan satu dari sejumlah penyakit di ketinggian seperti mountain sickness atau hipoksia (kekurangan pasokan oksigen ke tubuh), edema baru dan dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh. Hypothermia sering menyerang para pendaki gunung yang kurang melengkapi diri dengan perlengkapan penahan dingin atau penghangat badan seperti sweater, jaket, kaos kaki, balaclava, sarung tangan, tenda dsb.

Tetapi kadang juga kerap terjadi, pendaki gunung yang sudah melengkapi diri dengan perlengkapan penahan dingin tetap saja terkena hypothermia. Hal ini biasanya terjadi karena seluruh pakaian yang dikenakan telah basah kuyup diterpa hujan. Pendaki ini biasanya kurang melengkapi diri dengan perlengkapan penahan air atau hujan seperti rain coat, ponco (jas hujan), payung atau tenda yang memadai.

Pakaian yang basah akan mengurangi insulasi (kemampuan untuk menahan panas badan) sampai 90%. Kasus hypothermia yang disebabkan pakaian basah inilah sebenarnya yang paling sering meminta korban pendaki gunung di Indonesia.

Preventif Hypothermia

Seperti penyakit-penyakit gunung lainnya, hypothermia merupakan faktor bahaya yang sebenarnya dapat diperhitungkan sebelum melakukan kegiatan pendakian atau lebih dikenal dengan istilah subjective danger. Seorang pendaki yang sudah mempersiapkan fisik maupun perlengkapannya akan lebih mudah menghadapi bahaya-bahaya yang mungkin akan muncul.

Suatu hal yang harus diingat, janganlah memulai persiapan itu ketika gejala-gejala penyakitnya muncul di gunung. Persiapan itu harus sudah dimulai sejak masih di rumah, yakni dengan memiliki pengetahuan tentang bahaya yang potensial muncul, cara penanggulangan apa saja yang dibutuhkan.

Kecuali mempersiapkan diri dengan perlengkapan penahan dingin dan anti air berkualitas baik, ada beberapa hal pokok mendasar yang perlu diketahui mengenai hypothermia. Selalu menjaga suhu tubuh pada suhu normal pada kisaran 37 derajat celcius, merupakan hal utama untuk menghindari hypothermia.

Sebenarnya secara alamiah tubuh manusia akan selalu menjaga panasnya dengan beberapa cara, salah satunya melalui pencernaan makanan. Makanan yang masuk ke dalam tubuh menghasilkan panas melalui oksidasi, dan ini terutama penting bagi tubuh ketika sedang beristirahat. Panas yang berasal dari pencernaan makanan ini akan dihasilkan lebih banyak lagi oleh tubuh ketika sedang bergerak.

Penanganan Hypothermia

Orang yang terkena hypothermia akan menunjukkan gejala-gejala sesuai dengan tingkat penurunan suhu tubuh. Kehilangan kesadaran, misalnya akan menyebabkan apa yang disebut dengan paradocixal feeling of warmth. Pada kondisi ini, penderita hypothermia justru akan merasakan hal yang sebaliknya, yaitu rasa panas lalu tanpa sadar seluruh pakaian ditanggalkan sendiri. Sehingga amat sering dijumpai penderita atau korban hypothermia meninggal ditemukan dalam kondisi telanjang bulat.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menangani penderita hypothermia. Pertama adalah mencari dan memindahkan korban ke tempat yang kering dan terlindung dari angin dan air. Kemudian sebelum diberikan minuman yang hangat dan manis, usahakan baju basah korban diganti dengan yang kering. Lalu, masukkan korban ke dalam sleeping bag kering yang sebelumnya telah dihangatkan dengan cara memasukkan tubuh telanjang beberapa orang sehat (bersuhu normal).

Tindakan selanjutnya adalah, memasukkan botol berisi air hangat ke dalam sleeping bag untuk membantu memanaskan tubuh korban. Kalau sleeping bag cukup lebar, lakukan transfer panas tubuh orang sehat ke korban dengan cara dua orang ikut masuk ke dalam sleeping bag dan mengapit korban. Usahakan membuat api di kedua sisi korban, dan jangan biarkan korban hypothermia tertidur.

Tidur akan membuat penderita hypothermia kehilangan kesadaran dan tak mampu lagi memanaskan tubuhnya secara alami. Biarkan dia mengigil dan segera beri minuman hangat dan makanan manis setelah korban sadar. Hidrat arang dalam makanan itu merupakan bahan bakar yang cepat sekali menghasilkan panas dan tenaga.

Penyakit Akut Gunung

Secara hukum fisika, daerah pegunungan sangatlah berbeda kondisinya dibandingkan dengan daerah dataran rendah. Perbedaan ketinggian tempat ini berakibat munculnya perbedaan kondisi lingkungan setempat. Perbedaan yang sangat esensial misalnya berupa tekanan udara. Tekanan udara di dataran rendah lebih tinggi dibanding dengan pegunungan (dataran tinggi). Semakin tinggi suatu tempat semakin maka rendah tekanan udaranya. Hal ini berhubungan dengan faktor adanya gaya gravitasi bumi yang ditimbulkan.

Gravitasi di dataran rendah menjadi lebih tinggi karena kedekatannya dengan pusat bumi, sedangkan semakin daerah itu tinggi maka semakin pula menjauhi pusat bumi. Jauhnya dengan pusat bumi berakibat gaya gravitasinya semakin lemah. Lemahnya gravitasi ini memunculkan tekanan udara menjadi semakin lemah pula. Tekanan udara yang rendah ini berakibat kandungan oksigen pada lingkungan udara setempat menjadi rendah.

Kandungan oksigen di lingkungan tempat tinggi (gunung) berdampak terhadap kondisi fisiologis seorang pendaki gunung menjadi terganggu. Dampak rendahnya oksigen lingkungan ini bagi pendaki gunung mula-mula dirasakan berupa sesak nafas, selanjutnya yang dirasakan dapat pula berupa adanya semacam halusinasi yang diakibatkan mulai berkurangnya oksigen yang menuju ke otak.

Keadaan semacam ini sering membawa akibat yang tidak di inginkan
pada para pendaki gunung. Gangguan tersebut terumatama mulai terasa pada
ketinggian 2000 meter dari atas permukaan laut. Tetapi timbulnya
reaksi-reaksi itu tergantung kepada daya tahan dan daya pengesuaian
perorangan.

Jika hal ini terus berlanjut muncul efek yang sangat berbahaya yaitu hilangnya ingatan (amnesia) akibat hipoksia otak, kondisi ini membawa dampak tersesatnya seorang pendaki karena ingatan terhadap medan pendakian menjadi hilang, kemudian muncul pula halusinasi yang dapat berakibat seseorang bisa tanpa sadar menuju daerah yang berbahaya yang biasanya berupa jurang.

Kondisi tersebut di atas bertambah berat karena timbul dampak lain dari rendahnya oksigen lingkungan ini, yang berupa meningkatnya jumlah eritrosit dengan cepat (eritropoeisis) sehingga terjadi polisitemia (kadar eritrosit di atas harga normal). Polisitemia ini membawa pengaruh munculnya viskositas (kekentalan darah) meningkat, sehingga aliran darah menjadi lambat dan tekanan darah menjadi meningkat serta frekuensi denyut jantung meningkat, sehingga pendaki gunung merasa berdebar-debar jantungnya serta memperparah kondisi hipoksia otak.

Keadaan semacam ini biasanya dialami oleh seseorang yang mendaki gunung dengan tidak memperhatikan adaptasi gradual (bertahap) yaitu dengan cara beristirahat sesaat di pos-pos peristirahatan. Pos peristirahatan ini selain berfungsi untuk memulihkan kondisi kelelahan juga berfungsi untuk mengadaptasikan fisiologis tubuh terhadap perubahan lingkungan secara bertahap sehingga tubuh tidak kaget terhadap perubahan ini dan reaksi tubuh akan memberikan respons yang tidak akut (sekonyong-konyong mendadak).

Jika tahap adaptasi gradual ini ditempuh dengan baik maka resiko mountain sickness ini tidak akan terjadi dan kegiatan mendaki gunung benar-benar mengasyikkan.

GEJALA MOUNTAIN SICKNESS

Penderita mula-mula merasa pusing, sakit kepala, letih, mengantuk,
kedinginan, mual dan muntah-muntah, pucat, dan sesak nafaas. Kemudian di
ikuti perasaan panas, gelisah, kuping berdenging, susah berkonsentrasi
dan susah

MOUNTAIN SICKNESS akut yang di sertai kelainan paru-paru
Gangguan yang serius biasanya terjadi pada ketinggian 3000 meter atau
lebih. Gejalanya muncul 6-36 jam sesudag tiba di tempat tersebut.

Tanda-tandanyanya :
- batuk -batuk kering
- Sesak nafas juga pada waktu istirahat
- dada serasa tertekan
- mungkin batuk darah

Denyut nadi makin cepat, penderita nampak pucat dan membiru, kemudian
pingsan.

PERTOLONGAN YANG DAPAT DILAKUKAN…

Pada umumnya dengan beristirahat dengan kepala lebih rendah dari bagian tubuh lainnya, gejala-gejala akan menghilang dalam waktu 24-48 jam. Bila perlu beri pernafasan buatan Tetapi bila tidak berhasil penderita harus di bawa kembali ketempat yang lebih rendah. dan segera bawa ke dokter terdekat.
Continue Reading

Video Ekspedisi Semeru 26-29 Desember 2011

| 0 komentar



Eskpedisi ke gunung semeru hippalas sman 17 surabaya 
tgl. 26 -29 Desember 2011

video bagian 1

 


Video bagian 2



Continue Reading

Tanda-tanda Kekurangan Oksigen di Gunung dan Cara Mengatasinya

| 0 komentar



Berada di ketinggian dengan oksigen yang sedikit bisa memicu kondisi hipoksia, yakni ketika tubuh kekurangan pasokan oksigen. Para pendaki gunung harus mengenali tanda-tandanya, serta cara mengatasi jika mengalami kondisi tersebut.


Tanda-tanda hipoksia atau kekurangan oksigen antara lain :
  1. pandangan kabur, pernapasan makin cepat atau tersengal-sengal, serta tubuh menjadi lemas,"
  2. Frekuensi pernapasan yang meningkat terjadi karena tubuh berusaha memenuhi kebutuhan oksigen. Tidak hanya memaksa paru-paru bekerja lebih keras, kondisi ini juga mempengaruhi jantung yang harus bekerja keras memompa oksigen dalam darah yang hanya sedikit itu untuk didistribusikan ke seluruh tubuh.
  3. Selain dari gejala fisik, kondisi hipoksia juga bisa dikenali dari perubahan perilaku. Dalam kondisi hipoksia, otak juga akan kekurangan oksigen sehingga pola pikir seorang pendaki berubah menjadi kacau dan sulit membuat keputusan yang tepat.
"Dalam keadaan hipoksia, yang dominan hanya emosi dan ini sangat mempengaruhi pengambilan keputusan. Makanya para pendaki sering tersesat, salah satunya karena otak tidak mendapatkan oksigen yang cukup untuk bisa bekerja dengna baik,

Pertolongan pertama ketika menghadapi kondisi ini adalah :
  1. Dengan memberikan oksigen. Tabung oksigen berukuran kecil yang bisa dibawa ke mana-mana sangat mudah diperoleh di apotek dengan harga terjangkau, sehingga tidak ada salahnya para pendaki melengkapi diri dengan alat ini.
  2. Semua pakaian harus dilonggarkan agar pernapasan menjadi lebih lancar. Kerah baju harus dibuka, ikat pinggang dilepas dan juga bra pada perempuan mau tidak mau harus dilepas supaya saluran napasnya tidak sesak.
  3. Namun yang terpenting dari semua itu adalah, sesegera mungkin pendaki yang mengalami hipoksia harus dibawa ke lokasi yang lebih rendah supaya mendapat oksigen lebih banyak dari udara pernapasan. Makin lama berada dalam kondisi hipoksia, makin besar risiko kerusakan organ karena tidak mendapat suplai oksigen.

Daya tahan seseorang saat berada dalam kondisi hipoksia sangat beragam, salah satunya dipengaruhi oleh kadar sel darah merah serta hemoglobin. Orang-orang yang sehari-hari tinggal di gunung secara alamiah lebih tahan terhadap hipoksia karena sel darah merahnya lebih banyak.
Continue Reading

Persiapan Fisik yang Dibutuhkan Sebelum Mendaki Gunung

| 0 komentar





Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan saat mendaki gunung, persiapan fisik yang matang sangat diperlukan. Persiapan tersebut meliputi pemeriksaan kondisi kesehatan, serta melatih otot-otot yang banyak dipakai selama pendakian.

"Mendaki gunung harus dipersiapkan dengan baik, periksakan jika memang ada masalah dengan kesehatan," kata Dr Michael Triangto, SpKO dari RS Mitra Kemayoran saat dihubungi SUMBER, Minggu (22/4/2012).

Pemeriksaan itu terkait dengan penjelasan Dr Michael sebelumnya, tentang penyakit-penyakit yang tidak dianjurkan untuk dibawa naik gunung. Di antaranya meliputi tekanan darah, kadar gula, kondisi kesehatan mata dan juga kemampuan paru-paru untuk menyerap oksigen.

Selain pemeriksaan medis, persiapan fisik yang lain juga diperlukan. Salah satu yang paling penting adalah melatih kekuatan dan kelenturan otot-otot inti tubuh alias core muscle seperti dikutip dari Brendondavid berikut ini:

1. Otot perut
Tidak perlu punya perut 6-pack untuk bisa mendaki gunung, yang penting perut sebagai otot inti tubuh harus cukup kokoh untuk menjaga keseimbangan dan menopang berat badan secara keseluruhan. Salah satu cara untuk melatih otot perut adalah dengan melakukan sit-up.

2. Otot punggung bagian bawah
Bagian ini merupakan penyeimbang otot perut, jika dilatih kekuatannya maka postur tubuh akan menjadi lebih kokoh. Selain itu, otot punggung yang kokoh juga dibutuhkan untuk menopang ransel gunung yang beratnya kadang-kadang menyamai berat badan para pendaki.

3. Otot kaki
Cara termudah untuk melatih paha dan betis adalah dengan gerakan naik turun tangga. Cari yang memiliki 100 anak tangga, lalu lakukan gerakan naik turun sebanyak 10 kali/set tanpa beban tambahan dalam 2 minggu pertama dan lakukan pengulangan sebanyak yang dibutuhkan.

4. Kelenturan otot
Tidak cukup hanya otot yang kuat, ekspedisi pendakian gunung juga butuh kelenturan otot untuk mengantisipasi gerakan-gerakan yang tidak terduga saat menghadapi medan yang sangat sulit. Tidak perlu latihan khusus, kelenturan cukup dijaga dengan melakukan streching atau peregangan sebelum dan sesudah olahraga rutin.

Jika secara fisik sudah siap, maka langkah berikutnya adalah mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan termasuk obat-obatan. Alat-alat yang butuh perlakuan khusus misalnya tenda, ada baiknya dicoba dulu daripada harus kesulitan saat sudah berada di ketinggian.

Semua peralatan, terutama yang berfungsi sebagai penghangat seperti jaket dan kantong tidur harus dilapisi bahan kedap air supaya tidak basah apabila kehujanan. Susun isi ransel seringkas mungkin, letakkan makanan dan minuman serta obat-obatan di bagian yang paling mudah dijangkau.
Continue Reading

Teknik Packing Ransel (Carrier)

| 0 komentar




(Teknik packing yang benar membuat ransel (carrier) muat banyak tapi tidak memberatkan)


Teknik packing ransel (carrier) saat mendaki gunung maupun kegiatan out bond lainnya sangat diperlukan sehingga barang-barang yang kita bawa dapat kita bawa dengan ringkas, efisien, rapi. Packing biasa disebut juga dengan pengepakan.

Packing merupakan cara atau teknik menyusun perlengkapan dalam ransel (carrier). Dengan packing (pengepakan) yang baik ransel akan mampu memuat peralatan dengan efisien namun tetap terasa nyaman dikenakan saat perjalanan.

Oleh para penggiat kegiatan alam bebas (pecinta alam) packing telah dianggap sebagai salah satu ‘seni’ tersendiri. Sehingga teknik menyusun barang dalam ransel ini sangat tergantung pada keahlian dan kebiasaan masing-masing.

Prinsip-prinsip packing carrier yang harus diperhatikan antara lain:

Masukkan matras dalam ransel.
Sebagian orang memang lebih menyukai menempatkan matras tidur di luar carrier (ransel). Namun dengan meletakkan matras melingkar di dalam carrier bentuk ransel akan lebih tegak dan lebih mudah saat melakukan packing (meyusun) ataupun mengambil barang dari dalam ransel.

Letakkan barang terberat di paling atas
Dengan meletakkan barang-barang yang berat di bagian atas, beban terberat ransel akan jatuh di pundak. Jika tidak, berat badan akan membebani pinggul sehingga kaki kurang bebas bergerak dan cepat merasa lelah.

Berat seimbang antara kiri dan kanan
Saat melakukan packing, letakkan barang sehingga beban antara bagian kiri dan kanan ransel seimbang. Beban yang tidak seimbang akan mengganggu keseimbangan tubuh apalagi mengingat jalur pendakian yang biasanya melalui medan-medan yang sulit.

Maksimalkan ruang-ruang yang ada.
Barang-barang yang berlubang bagian dalamnya seperti nasting (panci serba guna) jangan dibiarkan kosong tetapi isilah dengan barang-barang lain semisal beras, telur dll.

Urutkan barang sesuai waktu penggunaanya
Barang-barang yang akan segera dipakai letakkan dibagian atas saat packing. Dan sebaliknya, barang yang kemungkinan dipakai belakangan dibagian bawah.

Pisah barang yang sewaktu-waktu diperlukan
Ponco (jas hujan), PPPK dan obat-obatan adalah barang yang sewaktu-waktu diperlukan dalam perjalanan. Saat melakukan packing barang-barang ini dapat diletakkan di bagian atas ransel atau pada kantong-kantong di luar ransel sehingga saat membutuhkan dapat mengambilnya dengan cepat.

Masukkan ke kantong plastik
Sebelum di packing dalam ransel kelompokkan dan masukkan barang-barang ke dalam kantong plastik yang tidak tembus air, terutama pakaian tidur atau pakaian cadangan, kertas kertas, buku, dll.

Lindungi benda mudah pecah
Benda mudah pecah seperti telur sebaiknya dimasukkan ke dalam wadah yang kuat.

Hindari menggantung benda di luar ransel
Matras ataupun benda lainnya sebaiknya jangan diletakkan di luar ransel. Menggantungkan benda di luar ransel selain kurang rapi juga beresiko tersangkut semak atau sejenisnya sehingga akan mengganggu perjalanan

Bawalah tas tambahan
Bila memungkinkan bawalah tas tambahan semisal tas kecil yang bisa dikenakan di paha. Tas ini bisa untuk mewadahi barang-barang yang sering dikeluarmasukkan semacam kamera saku, obat-obatan, dll.

Para pecinta alam biasa menyebut teknik pengepakan (packing) ini sebagai seni. Karena itu, teknik packing ransel atau carrier akan sangat tergantung pada selera dan keahlian masing-masing. Namun prinsip utama dari packing adalah menyusun barang dengan efisien, rapi tanpa harus merepotkan selama perjalanan.

Saya tidak tahu apakah teknik packing ransel ini dapat diberlakukan juga pada travel bag atau koper. Terus terang saya tidak mempunyai travel bag maupun koper.


Continue Reading

Ekspedisi Semeru 26-29 Desember 2011

Rabu, 14 November 2012 | 0 komentar
















































































































































Continue Reading
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. forum komunikasi pecinta alam sman 17 surabaya - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger