Latest News :

Metode P3K di Alam Bebas

Jumat, 23 November 2012 | 0 komentar



Metode P3K Di Alam Bebas berikut ini adalah sebuah metode penanganan atau penanggulangan pertama pada satu gangguan ataupun kecelakaan yang biasa terjadi saat berkegiatan di alam bebas. Banyak yang sebenarnya mudah kita lakukan, tetapi jarang yang mau ataupun sigap dalam melakukan pertolongan pertama dan awal apabila ada rekan lain yang mengalami kecelakaan di alam terbuka.


BERIKUT KASUS - KASUS KECELAKAAN ATAU GANGGUAN DALAM KEGIATAN ALAM TERBUKA

A. PINGSAN ( Syncope / collapse )
Yaitu hilangnya kesadaran sementara karena otak kekurangan O2, lapar, terlalu banyak mengeluarkan tenaga, dehidrasi ( kekurangan cairan tubuh ), hiploglikemia, animea.

Gejala
· Perasaan limbung
· Pandangan berkunang - kunang
· Telinga berdenging
· Nafas tidak teratur
· Muka pucat
· Biji mata melebar
· Lemas
· Keringat dingin
· Menguap berlebihan
· Tak respon ( beberapa menit )
· Denyut nadi lambat

Penanganan
1. Baringkan korban dalam posisi terlentang
2. Tinggikan tungkai melebihi tinggi jantung
3. Longgarkan pakaian yang mengikat dan hilangkan barang yang menghambat pernafasan
4. Beri udara segar
5. Periksa kemungkinan cedera lain
6. Selimuti korban
7. Korban diistirahatkan beberapa saat
8. Bila tak segera sadar >> periksa nafas dan nadi >> posisi stabil >> Rujuk ke instansi kesehatan

B. DEHIDRASI
Yaitu suatu keadaan dimana tubuh mengalami kekurangan cairan. Hal ini terjadi apabila cairan yang dikeluarkan tubuh melebihi cairan yang masuk. Keluarnya cairan ini biasanya disertai dengan elektrolit ( K, Na, Cl, Ca ). Dehidrasi disebabkan karena kurang minum dan disertai kehilangan cairan / banyak keringat karena udara terlalu panas atau aktivitas yang terlalu berlebihan.

Gejala dan tanda
Dehidrasi ringan
· Defisit cairan 5% dari berat badan
· Penderita merasa haus
· Denyut nadi lebih dari 90x / menit

Dehidrasi sedang
· Defisit cairan antara 5 - 10% dari berat badan
· Nadi lebih dari 90x / menit
· Nadi lemah
· Sangat haus

Dehidrasi berat
· Defisit cairan lebih dari 10% dari berat badan
· Hipotensi
· Mata cekung
· Nadi sangat lemah, sampai tak terasa
· Kejang - kejang

Penanganan
1. Mengganti cairan yang hilang dan mengatasi shock
2. mengganti elektrolit yang lemah
3. Mengenal dan mengatasi komplikasi yang ada
4. Memberantas penyebabnya
5. Rutinlah minum jangan tunggu haus

C. ASMA
Yaitu penyempitan / gangguan saluran pernafasan.

Gejala
· Sukar bicara tanpa berhenti, untuk menarik nafas
· Canned be heard the voice of the additional breath
· Otot Bantu nafas terlihat menonjol ( dileher )
· Irama nafas tidak teratur
· Terjadinya perubahan warna kulit ( merah / pucat / kebiruan / sianosis )
· Kesadaran menurun ( gelisah / meracau )

Penanganan
1. Tenangkan korban
2. Bawa ketempat yang luas dan sejuk
3. Posisikan ½ duduk
4. Atur nafas
5. Beri oksigen ( bantu ) bila diperlukan

D. PUSING / VERTIGO / NYERI KEPALA
Yaitu sakit kepala yang disebabkan oleh kelelahan, kelaparan, gangguan kesehatan dll.

Gejala
· Kepala terasa nyeri / berdenyut
· Kehilangan keseimbangan tubuh
· Lemas

Penanganan
1. Istirahatkan korban
2. Beri minuman hangat
3. beri obat bila perlu
4. Tangani sesuai penyebab

E. MAAG / MUAL
Yaitu gangguan lambung / saluran pencernaan.

Gejala
· Perut terasa nyeri / mual
· Berkeringat dingin
· Lemas

Penanganan
1. Istirahatkan korban dalam posisi duduk ataupun berbaring sesuai kondisi korban
2. Beri minuman hangat ( teh / kopi )
3. Jangan beri makan terlalu cepat

F. LEMAH JANTUNG

Yaitu nyeri jantung yang disebabkan oleh sirkulasi darah kejantung terganggu atau terdapat kerusakan pada jantung.

Gejala
· Nyeri di dada
· Penderita memegangi dada sebelah kiri bawah dan sedikit membungkuk
· Kadang sampai tidak merespon terhadap suara
· Denyut nadi tak teraba / lemah
· Gangguan nafas
. Mual, muntah, perasaan tidak enak di lambung
· Kepala terasa ringan
· Lemas
· Kulit berubah pucat / kebiruan
· Keringat berlebihan

Tidak semua nyeri pada dada adalah sakit jantung. Hal itu bisa terjadi karena gangguan pencernaan, stress, tegang.

Penanganan
1. Tenangkan korban
2. Istirahatkan
3. Posisi ½ duduk
4. Buka jalan pernafasan dan atur nafas
5. Longgarkan pakaian dan barang barang yang mengikat pada badan
6. Jangan beri makan / minum terlebih dahulu
7. Jangan biarkan korban sendirian ( harus ada orang lain didekatnya )

F. HISTERIA
Yaitu sikap berlebih - lebihan yang dibuat - buat ( berteriak, berguling - guling ) oleh korban; secara kejiwaan mencari perhatian.

Gejala
· Seolah - olah hilang kesadaran
· Sikapnya berlebihan ( meraung - raung, berguling - guling di tanah )
· Tidak dapat bergerak / berjalan tanpa sebab yang jelas

Penanganan
1. Tenangkan korban
2. Pisahkan dari keramaian
3. Letakkan di tempat yang tenang
4. Awasi

G. MIMISAN
Yaitu pecahnya pembuluh darah di dalam lubang hidung karena suhu ekstrim ( terlalu panas / terlalu dingin )/ kelelahan / benturan.

Gejala
· Dari lubang hidung keluar darah dan terasa nyeri
. Korban sulit bernafas dengan hidung karena lubang hidung tersumbat oleh darah
· Kadang disertai pusing

Penanganan
1. Bawa korban ke tempat sejuk / nyaman
2. Tenangkan korban
3. Korban diminta menunduk sambil menekan cuping hidung
4. Diminta bernafas lewat mulut
5. Bersihkan hidung luar dari darah
6. Buka setiap 5 / 10 menit. Jika masih keluar ulangi tindakan Pertolongan Pertama

H. KRAM
Yaitu otot yang mengejang / kontraksi berlebihan.

Gejala
· Nyeri pada otot
· Kadang disertai bengkak

Penanganan
1. Istirahatkan
2. Posisi nyaman
3. Relaksasi
4. Pijat berlawanan arah dengan kontraksi

I. MEMAR
Yaitu pendarahan yang terdi di lapisan bawah kulit akibat dari benturan keras.

Gejala
· Warna kebiruan / merah pada kulit
· Nyeri jika di tekan
· Kadang disertai bengkak

Penanganan
1. Kompres dingin
2. Balut tekan
3. Tinggikan bagian luka

J. KESELEO
Yaitu pergeseran yang terjadi pada persendian biasanya disertai kram.

Gejala
· Bengkak
· Nyeri bila tekan
· Kebiruan / merah pada derah luka
· Sendi terkunci
· Ada perubahan bentuk pada sendi

Penanganan
1. Korban diposisikan nyaman
2. Kompres es / dingin
3. Balut tekan dengan ikatan 8 untuk mengurangi pergerakan
4. Tinggikan bagian tubuh yang luka

K. LUKA
Yaitu suatu keadaan terputusnya kontinuitas jaringan secara tiba - tiba karena kekerasan / injury.

Gejala
· Terbukanya kulit
· Pendarahan
· Rasa nyeri

Penanganan
1. Bersihkan luka dengan antiseptic ( alcohol / boorwater )
2. Tutup luka dengan kasa steril / plester
3. Balut tekan ( jika pendarahannya besar )
4. Jika hanya lecet, biarkan terbuka untuk proses pengeringan luka

Hal - hal yang perlu diperhatikan dalam menangani luka:

1. Ketika memeriksa luka: adakah benda asing, bila ada:
o Keluarkan tanpa menyinggung luka
o Kasa / balut steril ( jangan dengan kapas atau kain berbulu )
o Evakuasi korban ke pusat kesehatan

2. Bekuan darah: bila sudah ada bekuan darah pada suatu luka ini berarti luka mulai menutup. Bekuan tidak boleh dibuang, jika luka akan berdarah lagi.

L. PENDARAHAN
Yaitu keluarnya darah dari saluran darah kapan saja, dimana saja, dan waktu apa saja. Penghentian darah dengan cara:

1. Tenaga / mekanik, misal menekan, mengikat, menjahit dll
2. Fisika:
· Bila dikompres dingin akan mengecil dan mengurangi pendarahan
· Bila dengan panas akan terjadinya penjedalan dan mengurangi
3. Kimia: Obat - obatan
4. Biokimia: vitamin K
5. Elektrik: diahermik

M. PATAH TULANG / FRAKTUR
Yaitu rusaknya jaringan tulang, secara keseluruhan maupun sebagian.

Gejala
· Perubahan bentuk
· Nyeri bila ditekan dan kaku
· Bengkak
· Terdengar / terasa ( korban ) derikan tulang yang retak/patah
· Ada memar ( jika tertutup )
· Terjadi pendarahan ( jika terbuka )
Jenisnya
· Terbuka ( terlihat jaringan luka )
· Tertutup

Penanganan
Tenangkan korban jika sadar.

Untuk patah tulang tertutup
1 Periksa Gerakan (apakah bagian tubuh yang luka bisa digerakan/diangkat)
Sensasi ( respon nyeri )
Sirkulasi ( peredaran darah )
2. Ukur bidai disisi yang sehat
3. Pasang kain pengikat bidai melalui sela - sela tubuh bawah
4. Pasang bantalan didaerah patah tulang
5. Pasang bidai meliputi 2 sendi disamping luka
6. Ikat bidai
7. Periksa GSS

Untuk patah tulang terbuka
1.Buat pembalut cincin untuk menstabilkan posisi tulang yang mencuat
2.Tutup tulang dengan kasa steril, plastik, pembalut cincin
3.Ikat dengan ikatan V
4.Untuk selanjutnya ditangani seperti pada patah tulang tertutup

Tujuan Pembidaian
1. Mencegah pergeseran tulang yang patah
2. memberikan istirahat pada anggota badan yang patah
3. mengurangi rasa sakit
4. Mempercepat penyembuhan

N. LUKA BAKAR
Yaitu luka yang terjadi akibat sentuhan tubuh dengan benda - benda yang menghasilkan panas ( api, air panas, listrik, atau zat - zat yang bersifat membakar)

Penanganan
1. Matikan api dengan memutuskan suplai oksigen
. Perhatikan keadaan umum penderita
3. Pendinginan
· Membuka pakaian penderita / korban
· Merendam dalam air atau air mengalir selama 20 atau 30 menit. Untuk daerah wajah, cukup dikompres air

1. Mencegah infeksi
o Luka ditutup dengan perban atau kain bersih kering yang tak dapat melekat pada luka
o Penderita dikerudungi kain putih
o Luka jangan diberi zat yang tak larut dalam air seperti mentega, kecap dll

2. Pemberian sedative / morfin 10 mg im diberikan dalam 24 jam sampai 48 jam pertama
3. Bila luka bakar luas penderita dikuasakan
4. Transportasi kefasilitasan yang lebih lengkap sebaiknya dilakukan dalam satu jam bila tidak memungkinkan masih bisa dilakukan dalam 24 - 48 jam pertama dengan pengawasan ketat selama perjalanan.
5. Khusus untuk luka bakar daerah wajah, posisi kepala harus lebih tinggi dari tubuh.

O. HIPOTERMIA
Yaitu suhu tubuh menurun karena lingkungan yang dingin.

Gejala
· Menggigil / gemetar
· Perasaan melayang
· Nafas cepat, nadi lambat
· Pandangan terganggu
· Reaksi manik mata terhadap rangsangan cahaya lambat

Penanganan
1. Bawa korban ketempat hangat
2. Jaga jalan nafas tetap lancar
3. Beri minuman hangat dan selimut
4. Jaga agar tetap sadar
5. Setelah keluar dari ruangan, diminta banyak bergerak ( jika masih kedinginan )

P. KERACUNAN MAKANAN DAN MINUMAN

Gejala
· Mual, muntah
· Keringat dingin
· Wajah pucat / kebiruan

Penanganan
1. Bawa ke tempat teduh dan segar
2. Korban diminta muntah
3. Diberi norit
4. Istirahatkan
5. Jangan diberi air minum sampai kondisinya lebih baik

Q. GIGITAN BINATANG
Gigitan binatang dan sengatan, biasanya merupakan alat dari binatang tersebut untuk mempertahankan diri dari lingkungan atau sesuatu yang mengancam keselamatan jiwanya. Gigitan binatang terbagi menjadi dua jenis; yang berbisa ( beracun ) dan yang tidak memiliki bisa. Pada umumnya resiko infeksi pada gigitan binatang lebih besar daripada luka biasa.

Pertolongan Pertamanya adalah:

· Cucilah bagian yang tergigit dengan air hangat dengan sedikit antiseptik
· Bila pendarahan, segera dirawat dan kemudian dibalut

Ada beberapa jenis binatang yang sering menimbulkan ganguan saat melakukan kegiatan di alam terbuka, diantaranya:

Gigitan Ular
Tidak semua ular berbisa, akan tetapi hidup penderita / korban tergantung pada ketepatan diagnosa, maka pad keadaan yang meragukan ambillah sikap menganggap ular tersebut berbisa. Sifat bisa / racun ular terbagi menjadi 3, yaitu:

1. Hematotoksin ( keracunan dalam )
2. Neurotoksin ( bisa / racun menyerang sistem saraf )
3. Histaminik ( bisa menyebabkan alergi pada korban )

Nyeri yang sangat dan pembengkakan dapat timbul pada gigitan, penderita dapat pingsan, sukar bernafas dan mungkin disertai muntah. Sikap penolong yaitu menenangkan penderita adalah sangat penting karena rata - rata penderita biasanya takut mati.

Penanganan untuk Pertolongan Pertama:

1. Telentangkan atau baringkan penderita dengan bagian yang tergigit lebih rendah dari jantung.

2. Tenangkan penderita, agar penjalaran bisa ular tidak semakin cepat

3. Cegah penyebaran bias penderita dari daerah gigitan
o Torniquet di bagian proximal daerah gigitan pembengkakan untuk membendung sebagian aliran limfa dan vena, tetapi tidak menghalangi aliran arteri. Torniquet / toniket dikendorkan setiap 15 menit selama + 30 detik

o Letakkan daerah gigitan dari tubuh
o Berikan kompres es
o Usahakan penderita setenang mungkin bila perlu diberikan petidine 50 mg / im untuk menghilangkan rasa nyeri

4. Perawatan luka

o Hindari kontak luka dengan larutan asam Kmn 04, yodium atau benda panas
o Zat anestetik disuntikkan sekitar luka jangan kedalam lukanya, bila perlu pengeluaran ini dibantu dengan pengisapan melalui breastpump sprit atau dengan isapan mulut sebab bisa ular tidak berbahaya bila ditelan ( selama tidak ada luka di mulut ).

5. Bila memungkinkan, berikan suntikan anti bisa ( antifenin )

6. Perbaikan sirkulasi darah

o Kopi pahit pekat
o Kafein nabenzoat 0,5 gr im /iv
o Bila perlu diberikan pula vasakonstriktor

7. Obat - obatan lain
o Ats
o Toksoid tetanus 1 ml
o Antibiotic misalnya: PS 4:1

Gigitan Lipan
Ciri - ciri
1. Ada sepasang luka bekas gigitan
2. Sekitar luka bengkak, rasa terbakar, pegal dan sakit biasanya hilang dengan sendirinya setelah 4 - 5 jam

Penanganan
1. Kompres dengan yang dingin dan cuci dengan obat antiseptik
2. Beri obat pelawan rasa sakit, bila gelisah bawa ke paramedik

Gigitan Lintah dan Pacet
Ciri - ciri
Pembengkakan, gatal dan kemerah - merahan ( lintah )

Penanganan
1. Lepaskan lintah / pacet dengan bantuan air tembakau / air garam
2. Bila ada tanda - tanda reaksi kepekaan, gosok dengan obat atau salep anti gatal

Sengatan Lebah / Tawon dan Hewan Penyengat lainnya
Biasanya sengatan ini kurang berbahaya walaupun bengkak, memerah, dan gatal. Namun beberapa sengatan pada waktu yang sama dapat memasukkan racun dalam tubuh korban yang sangat menyakiti.

Perhatian:
· Dalam hal sengatan lebah, pertama cabutlah sengat - sengat itu tapi jangan menggunakan kuku atau pinset, Anda justru akan lebih banyak memasukkan racun kedalam tubuh. Cobalah mengorek sengat itu dengan mata pisau bersih atau dengan mendorongnya ke arah samping
· Balutlah bagian yang tersengat dan basahi dengan larutan garam inggris.

Disadur Dari Berbagai Sumber
Continue Reading

Cara Menghindari atau Mencegah Mabuk Gunung

| 1komentar



Cara mencegah mabuk gunung ini sebaiknya diketahui, karena saat di alam bebas banyak kendala yang mempersulit perjalanan kita. Antara lain adalah mabuk gunung. Hampir sama dengan istilah mabuk yang lain, mabuk gunung adalah penyakit yang menghinggapi pendaki hingga merasa ada sesuatu yang bisa berlebihan dan kekurangan. Silahkan di ketahui dan di antisipasi.

1. Menghindari Faktor Pemicu
Hal pertama yang perlu diupayakan adalah menjauhkan diri dari faktor - faktor pemicu. Meskipun tidak selalu berhubungan langsung, hal - hal berikut ditengarai sering memicu dan memperburuk mabuk gunung.

· Menambah ketinggian terlalu cepat
· Aktivitas fisik yang berlebihan ( overexertion )
· Kedinginan ( hypothermia )
· Hidrasi tidak cukup, dan
· Konsumsi alkohol atau sedatives lain.


2. Aklimatisasi
Seperti telah diketahui, penyebab mabuk gunung adalah tidak mampunya tubuh menerima kondisi di ketinggian. Ketidakmampuan itu terjadi kalau penambahan elevasi terjadi pada waktu yang terlalu singkat—lebih singkat dari waktu yang diperlukan oleh tubuh untuk menyesuaikan diri. Sebenarnya, tubuh kita bisa beradaptasi, tetapi hal itu harus dilakukan secara bertahap. Usaha ini disebut aklimatisasi.

Rumus aklimatisasi pendaki adalah climb high sleep low ( CHSL )—naik ke ketinggian tertentu, kemudian turun untuk tidur / beristirahat pada ketinggian di bawahnya. Misalnya direncanakan untuk buka camp pada ketinggian 3.600 mdpl, naiklah dulu ke 4.000 mdpl. Untuk pendakian gunung yang elevasinya > 3.600 mdpl, aklimatisasi dengan rumus ini mutlak diperlukan. Itulah sebabnya pendakian Everest bisa makan waktu lebih dari sebulan karena pendaki naik-turun berkali - kali sebelum melakukan summit attack. Gunung - gunung kita yang rata - rata 3.000 an mdpl, untuk kebanyakan pendaki bisa disikat langsung.

Selain itu, setelah melewati batas 3.000 mdpl, penambahan elevasi harus dibatasi maksimum 300 mt per hari. Selain Jayawijaya, ada empat gunung di Indonesia yang menurut hemat saya harus memperhatikan kaidah ini, yaitu Kerinci, Rinjani, Semeru, dan Slamet karena ketinggiannya melebihi 3.300 mdpl. Untuk kelima gunung ini, idealnya summit attack dilakukan dari ketinggian yang berjarak kurang dari 300 mtr vertikal dari puncak.

Dua puluh empat jam pertama berada di daerah yang tinggi, misalnya di desa terakhir ( base camp ) batasi aktivitas fisik. Meskipun demikian, pada siang hari, aktivitas ringan lebih baik dari pada tidur agar respirasi melakukan penyesuaian.

3. Nutrisi dan Hidrasi
Hidrasi sangat penting. Eksersi membuang cairan dalam tubuh, dan itu perlu diganti. Indikasi kecukupan hidrasi adalah banyak dan beningnya urine. Bila kencing sedikit, pekat, dan berwarna, berarti anda kurang minum. Makanan tinggi karbohidrat harus menjadi menu utama pendaki. Alasannya adalah bahwa 70% kalori dihasilkan oleh karbohidrat.

4. Mengenal Diri Sendiri
Yang tidak kalah penting dari semua saran di atas adalah mengenali diri sendiri. Anda harus paham betul bagaimana tubuh anda bereaksi terhadap kondisi di ketinggian karena tidak ada ciri - ciri pembeda khusus antara yang rentan dengan yang tahan. Sungguh bijaksana bila anda mau belajar merasakan dan mengenali setiap gejala yang terasa. Misalnya, membedakan antara sakit kepala yang terjadi karena eksersi berlebihan ( seperti bila anda selesai berlari sprint ) dengan nyut - nyutan gejala mabuk gunung.

Angka - angka dalam tulisan ini harus dianggap hanya sebagai patokan umum yang tidak absolut. Untuk masing - masing individu, pada prakteknya bergeser naik atau turun dari angka - angka itu. Pada akhirnya, mabuk gunung bersifat sangat personal.

Golden rule di ketinggian: bila anda mengalami tidak enak badan, pusing atau pening tetapi tidak tahu sebabnya secara pasti, anda harus menyimpulkan bahwa anda menderita mabuk gunung!

5. Mengenal Teman Satu Tim
Teman sependakian anda belum tentu mengetahui seluk - beluk mabuk gunung. Belum tentu pula mereka cukup mengenal daya adaptasi diri sendiri terhadap ketinggian. Kalau demikian keadaannya, anda yang perlu menajamkan pandangan untuk mengamati kondisi mereka. Dari pengalaman saya, gejala awal mabuk yang paling mudah diamati dari luar adalah kondisi fisik dan tingkah - laku.

Bila ada teman yang mengalami kelelahan berlebihan, amati terus keadaannya. Kalau ada yang begini, biasanya saya menguji kondisinya dengan menyodorkan makanan kecil. Kalau dia menolak, cobalah makanan lain. Kalau semua ditolak, waspada!

Ciri lain yang sering mencolok adalah social withdrawal. Kalau ada teman yang berubah perangainya menjadi lebih pendiam, ogah ngobrol, kehilangan canda, dan lebih suka menyendiri, anda harus mulai curiga. Berikutnya, ujilah juga dengan makanan. Pendeknya, bila pendaki masih rakus dan doyan ini - itu, berarti sehat!

PENANGANAN MABUK GUNUNG

1. Stop
Kalau gejala AMS mulai terasa, STOP! Jangan ngotot! Pergerakan naik harus dihentikan sampai gejala hilang. Berikan waktu yang cukup untuk tubuh melakukan adaptasi. Bila tidak ada tanda - tanda membaik, segeralah mengurangi ketinggian paling tidak 300 mtr vertikal. Bila tidak membaik juga, urungkan niat mendaki. Turunlah sesegera mungkin!

2. Mandiri
Mendaki berombongan, biasanya lebih merepotkan bila anda mengalami mabuk gunung. Naik salah, berhenti sendirian pun salah. Bagaimanapun, kalau memang harus, ditinggal sendirian di tengah hutan jauh lebih baik. Pemaksaan diri mengikuti rombongan bergerak naik justru memperbesar risiko dimakan setan. Awas, setan HAPE dan setan HACE menunggu!!! Dalam situasi darurat, beranikan diri untuk mengambil keputusan dan bertindak sendiri.

Studi menunjukkan bahwa kematian oleh mabuk gunung, terjadi lebih banyak pada pendaki yang berkelompok dari pada solo. ( Shlim DR, Houston R., Helicopter Rescues and Deaths Among Trekkers in Nepal ).

3. Berkorban
Untuk pendaki yang sehat, selayaknya bersedia mengorbankan kepentingannya mencapai puncak bila ada teman setim yang mabuk gunung. Temani si pemabuk sampai bisa dibawa naik, atau bawalah turun kalau perlu. Percayalah, pengorbanan anda bisa berarti menyelamatkan nyawa.

4. Cara Istirahat
Istirahat untuk pemabuk gunung harus diusahakan dalam keadaan sehangat dan senyaman mungkin. Pemakaian tenaga harus diminimumkan, meskipun pada perjalanan turun.

5. Yang Harus Dihindari
Rokok, alkohol, dan depresan lain termasuk obat penenang dan obat tidur harus dijauhi. Depresan akan menurunkan respirasi pada saat tidur, sehingga memperburuk gejala mabuk gunung.

6. Turun
Turun adalah resep terbaik untuk yang sudah terkena HACE atau HAPE. Cara ini relatif mudah dilakukan di gunung - gunung di Indonesia. Jadi, tidak ada yang perlu ditunggu. Turun! Bila peralatan dan anggota tim lain mampu, penderita yang sudah parah sebaiknya digotong / digendong untuk meminimumkan aktivitas fisik.

Kalau karena alasan tertentu turun tidak mungkin, korban memerlukan bantuan oksigen. Pada kasus - kasus yang lebih berat yang biasanya terjadi di gunung - gunung extremely high, penderita dimasukkan ke dalam Gumow Bag ( kantong bertekanan portable ).

7. Medikasi
Sebenarnya ada obat - obatan yang bisa membantu penderita mabuk gunung. Bahkan ada jenis tertentu yang bisa dipakai untuk membantu aklimatisasi para rescuer karena mereka harus bergerak naik dengan cepat. Tetapi saya, maaf, tidak berani menulisnya di sini. Saya khawatir yang saya tulis diambil sebagai resep resmi pendaki gunung, sementara saya bukan dokter.
Continue Reading

Pengetahuan Dasar Navigasi Darat

| 1komentar



Navigasi darat adalah ilmu praktis. Kemampuan bernavigasi dapat terasah jika sering berlatih. Pemahaman teori dan konsep hanyalah faktor yang membantu, dan tidak menjamin jika mengetahui teorinya secara lengkap, maka kemampuan navigasinya menjadi tinggi. Bahkan seorang jago navigasi yang tidak pernah berlatih dalam jangka waktu lama, dapat mengurangi kepekaannya dalam menerjemahkan tanda-tanda di peta ke medan sebenarnya, atau menerjemahkan tanda-tanda medan ke dalam peta. Untuk itu, latihan sesering mungkin akan membantu kita untuk dapat mengasah kepekaan, dan pada akhirnya navigasi darat yang telah kita pelajari menjadi bermanfaat untuk kita.

Pada prinsipnya navigasi adalah cara menentukan arah dan posisi, yaitu arah yang akan dituju dan posisi keberadaan navigator berada dimedan sebenarnya yang di proyeksikan pada peta.

Beberapa media dasar navigasi darat adalah :

Peta

Peta adalah penggambaran dua dimensi (pada bidang datar) dari sebagian atau keseluruhan permukaan bumi yang dilihat dari atas, kemudian diperbesar atau diperkecil dengan perbandingan tertentu. Dalam navigasi darat digunakan peta topografi. Peta ini memetakan tempat-tempat dipermukaan bumi yang berketinggian sama dari permukaan laut menjadi bentuk garis kontur.

Beberapa unsur yang bisa dilihat dalam peta :
  • Judul peta; biasanya terdapat di atas, menunjukkan letak peta
  • Nomor peta; selain sebagai nomor registrasi dari badan pembuat, kita bisa menggunakannya sebagai petunjuk jika kelak kita akan mencari sebuah peta
  • Koordinat peta; penjelasannya dapat dilihat dalam sub berikutnya
  • Kontur; adalah merupakan garis khayal yang menghubungkan titik titik yang berketinggian sama diatas permukaan laut.
  • Skala peta; adalah perbandingan antara jarak peta dan jarak horizontal dilapangan. Ada dua macam skala yakni skala angka (ditunjukkan dalam angka, misalkan 1:25.000, satu senti dipeta sama dengan 25.000 cm atau 250 meter di keadaan yang sebenarnya), dan skala garis (biasanya di peta skala garis berada dibawah skala angka).
  • Legenda peta ; adalah simbol-simbol yang dipakai dalam peta tersebut, dibuat untuk memudahkan pembaca menganalisa peta.

Di Indonesia, peta yang lazim digunakan adalah peta keluaran Direktorat Geologi Bandung, lalu peta dari Jawatan Topologi, yang sering disebut sebagai peta AMS (American Map Service) dibuat oleh Amerika dan rata-rata dikeluarkan pada tahun 1960.

Peta AMS biasanya berskala 1:50.000 dengan interval kontur (jarak antar kontur) 25 m. Selain itu ada peta keluaran Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional) yang lebih baru, dengan skala 1:50.000 atau 1:25.000 (dengan interval kontur 12,5 m). Peta keluaran Bakosurtanal biasanya berwarna.

Koordinat

Peta Topografi selalu dibagi dalam kotak-kotak untuk membantu menentukan posisi dipeta dalam hitungan koordinat. Koordinat adalah kedudukan suatu titik pada peta. Secara teori, koordinat merupakan titik pertemuan antara absis dan ordinat. Koordinat ditentukan dengan menggunakan sistem sumbu, yakni perpotongan antara garis-garis yang tegak lurus satu sama lain. Sistem koordinat yang resmi dipakai ada dua macam yaitu :
  1. Koordinat Geografis (Geographical Coordinate) ; Sumbu yang digunakan adalah garis bujur (bujur barat dan bujur timur) yang tegak lurus dengan garis khatulistiwa, dan garis lintang (lintang utara dan lintang selatan) yang sejajar dengan garis khatulistiwa. Koordinat geografis dinyatakan dalam satuan derajat, menit dan detik. Pada peta Bakosurtanal, biasanya menggunakan koordinat geografis sebagai koordinat utama. Pada peta ini, satu kotak (atau sering disebut satu karvak) lebarnya adalah 3.7 cm. Pada skala 1:25.000, satu karvak sama dengan 30 detik (30"), dan pada peta skala 1:50.000, satu karvak sama dengan 1 menit (60").
  2. Koordinat Grid (Grid Coordinate atau UTM) ; Dalam koordinat grid, kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak setiap titik acuan. Untuk wilayah Indonesia, titik acuan berada disebelah barat Jakarta (60 LU, 980 BT). Garis vertikal diberi nomor urut dari selatan ke utara, sedangkan horizontal dari barat ke timur. Sistem koordinat mengenal penomoran 4 angka, 6 angka dan 8 angka. Pada peta AMS, biasanya menggunakan koordinat grid. Satu karvak sebanding dengan 2 cm. Karena itu untuk penentuan koordinat koordinat grid 4 angka, dapat langsung ditentukan. Penentuan koordinat grid 6 angka, satu karvak dibagi terlebih dahulu menjadi 10 bagian (per 2 mm). Sedangkan penentuan koordinat grid 8 angka dibagi menjadi sepuluh bagian (per 1 mm).
Analisa Peta

Salah satu faktor yang sangat penting dalam navigasi darat adalah analisa peta. Dengan satu peta, kita diharapkan dapat memperoleh informasi sebanyak-banyaknya tentang keadaan medan sebenarnya, meskipun kita belum pernah mendatangi daerah di peta tersebut.

  1. Unsur dasar peta ; Untuk dapat menggali informasi sebanyak-banyaknya, pertama kali kita harus cek informasi dasar di peta tersebut, seperti judul peta, tahun peta itu dibuat, legenda peta dan sebagainya. Disamping itu juga bisa dianalisa ketinggian suatu titik (berdasarkan pemahaman tentang kontur), sehingga bisa diperkirakan cuaca, dan vegetasinya.
  2. Mengenal tanda medan ; Disamping tanda pengenal yang terdapat dalam legenda peta, kita dapat menganalisa peta topografi berdasarkan bentuk kontur. Beberapa ciri kontur yang perlu dipahami sebelum menganalisa tanda medan :
    • Antara garis kontur satu dengan yang lainnya tidak pernah saling berpotongan
    • Garis yang berketinggian lebih rendah selalu mengelilingi garis yang berketinggian lebih tinggi, kecuali diberi keterangan secara khusus, misalnya kawah
    • Beda ketinggian antar kontur adalah tetap meskipun kerapatan berubah-ubah
    • Daerah datar mempunyai kontur jarang-jarang sedangkan daerah terjal mempunyai kontur rapat.
    • Beberapa tanda medan yang dapat dikenal dalam peta topografi:

    1. Puncak bukit atau gunung biasanya berbentuk lingkaran kecil, tertelak ditengah-tengah lingkaran kontur lainnya.
    2. Punggungan terlihat sebagai rangkaian kontur berbentuk U yang ujungnya melengkung menjauhi puncak
    3. Lembahan terlihat sebagai rangkaian kontur berbentuk V yang ujungnya tajam menjorok kepuncak. Kontur lembahan biasanya rapat.
    4. Saddle, daerah rendah dan sempit diantara dua ketinggian
    5. Pass, merupakan celah memanjang yang membelah suatu ketinggian
    6. Sungai, terlihat dipeta sebagai garis yang memotong rangkaian kontur, biasanya ada di lembahan, dan namanya tertera mengikuti alur sungai. Dalam membaca alur sungai ini harap diperhatikan lembahan curam, kelokan-kelokan dan arah aliran.
    7. Bila peta daerah pantai, muara sungai merupakan tanda medan yang sangat jelas, begitu pula pulau-pulau kecil, tanjung dan teluk
    8. Pengertian akan tanda medan ini mutlak diperlukan, sebagai asumsi awal dalam menyusun perencanaan perjalanan
Kompas

Kompas adalah alat penunjuk arah, dan karena sifat magnetnya, jarumnya akan selalu menunjuk arah utara-selatan (meskipun utara yang dimaksud disini bukan utara yang sebenarnya, tapi utara magnetis). Secara fisik, kompas terdiri dari :

  • Badan, tempat komponen lainnya berada
  • Jarum, selalu menunjuk arah utara selatan, dengan catatan tidak dekat dengan megnet lain/tidak dipengaruhi medan magnet, dan pergerakan jarum tidak terganggu/peta dalam posisi horizontal.
  • Skala penunjuk, merupakan pembagian derajat sistem mata angin.
Jenis kompas yang biasa digunakan dalam navigasi darat ada dua macam yakni kompas bidik (misal kompas prisma) dan kompas orienteering (misal kompas silva, suunto dll). Untuk membidik suatu titik, kompas bidik jika digunakan secara benar lebih akurat dari kompas silva. Namun untuk pergerakan dan kemudahan ploting peta, kompas orienteering lebih handal dan efisien.

Dalam memilih kompas, harus berdasarkan penggunaannya. Namun secara umum, kompas yang baik adalah kompas yang jarumnya dapat menunjukkan arah utara secara konsisten dan tidak bergoyang-goyang dalam waktu lama. Bahan dari badan kompas pun perlu diperhatikan harus dari bahan yang kuat/tahan banting mengingat kompas merupakan salah satu unsur vital dalam navigasi darat

Cttn: saat ini sudah banyak digunakan GPS [global positioning system] dengan tehnologi satelite untuk mengantikan beberapa fungsi kompas.


Orientasi Peta
Orientasi peta adalah menyamakan kedudukan peta dengan medan sebenarnya (atau dengan kata lain menyamakan utara peta dengan utara sebenarnya). Sebelum anda mulai orientasi peta, usahakan untuk mengenal dulu tanda-tanda medan sekitar yang menyolok dan posisinya di peta. Hal ini dapat dilakukan dengan pencocokan nama puncakan, nama sungai, desa dll. Jadi minimal anda tahu secara kasar posisi anda dimana. Orientasi peta ini hanya berfungsi untuk meyakinkan anda bahwa perkiraan posisi anda dipeta adalah benar. Langkah-langkah orientasi peta:
  1. Usahakan untuk mencari tempat yang berpemandangan terbuka agar dapat melihat tanda-tanda medan yang menyolok.
  2. Siapkan kompas dan peta anda, letakkan pada bidang datar
  3. Utarakan peta, dengan berpatokan pada kompas, sehingga arah peta sesuai dengan arah medan sebenarnya
  4. Cari tanda-tanda medan yang paling menonjol disekitar anda, dan temukan tanda-tanda medan tersebut di peta. Lakukan hal ini untuk beberapa tanda medan
  5. Ingat tanda-tanda itu, bentuknya dan tempatnya di medan yang sebenarnya. Ingat hal-hal khas dari tanda medan.

Jika anda sudah lakukan itu semua, maka anda sudah mempunyai perkiraan secara kasar, dimana posisi anda di peta. Untuk memastikan posisi anda secara akurat, dipakailah metode resection.

Resection

Prinsip resection adalah menentukan posisi kita dipeta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali. Teknik ini paling tidak membutuhkan dua tanda medan yang terlihat jelas dalam peta dan dapat dibidik pada medan sebenarnya (untuk latihan resection biasanya dilakukan dimedan terbuka seperti kebun teh misalnya, agar tanda medan yang ekstrim terlihat dengan jelas).

Tidak setiap tanda medan harus dibidik, minimal dua, tapi posisinya sudah pasti.
Langkah-langkah melakukan resection:
  1. Lakukan orientasi peta
  2. Cari tanda medan yang mudah dikenali di lapangan dan di peta, minimal 2 buah
  3. Dengan busur dan penggaris, buat salib sumbu pada tanda-tanda medan tersebut (untuk alat tulis paling ideal menggunakan pensil mekanik-B2).
  4. Bidik tanda-tanda medan tersebut dari posisi kita dengan menggunakan kompas bidik. Kompas orienteering dapat digunakan, namun kurang akurat.
  5. Pindahkan sudut back azimuth bidikan yang didapat ke peta dan hitung sudut pelurusnya. Lakukan ini pada setiap tanda medan yang dijadikan sebagai titik acuan.
  6. Perpotongan garis yang ditarik dari sudut-sudut pelurus tersebut adalah posisi kita dipeta.

Intersection

Prinsip intersection adalah menentukan posisi suatu titik (benda) di peta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali di lapangan. Intersection digunakan untuk mengetahui atau memastikan posisi suatu benda yang terlihat dilapangan tetapi sukar untuk dicapai atau tidak diketahui posisinya di peta. Syaratnya, sebelum intersection kita sudah harus yakin terlebih dahulu posisi kita dipeta. Biasanya sebelum intersection, kita sudah melakukan resection terlebih dahulu.

Langkah-langkah melakukan intersection adalah:
  1. Lakukan orientasi peta
  2. Lakukan resection untuk memastikan posisi kita di peta.
  3. Bidik obyek yang kita amati
  4. Pindahkan sudut yang didapat ke dalam peta
  5. Bergerak ke posisi lain dan pastikan posisi tersebut di peta. Lakukan langkah 1-3
  6. Perpotongan garis perpanjangan dari dua sudut yang didapat adalah posisi obyek yang dimaksud.

Azimuth - Back Azimuth

Azimuth adalah sudut antara satu titik dengan arah utara dari seorang pengamat. Azimuth disebut juga sudut kompas. Jika anda membidik sebuah tanda medan, dan memperolah sudutnya, maka sudut itu juga bisa dinamakan sebagai azimuth. Kebalikannya adalah back azimuth. Dalam resection back azimuth diperoleh dengan cara:
  • Jika azimuth yang kita peroleh lebih dari 180º maka back azimuth adalah azimuth dikurangi 180º. Misal anda membidik tanda medan, diperoleh azimuth 200º. Back azimuthnya adalah 200º- 180º = 20º
  • Jika azimuth yang kita peroleh kurang dari 180º, maka back azimuthnya adalah 180º ditambah azimuth. Misalkan, dari bidikan terhadap sebuah puncak, diperoleh azimuth 160º, maka back azimuthnya adalah 180º+160º = 340º

Dengan mengetahui azimuth dan back azimuth ini, memudahkan kita untuk dapat melakukan ploting peta (penarikan garis lurus di peta berdasarkan sudut bidikan). Selain itu sudut kompas dan back azimuth ini dipakai dalam metode pergerakan sudut kompas (lurus/ man to man-biasa digunakan untuk “Kompas Bintang”). Prinsipnya membuat lintasan berada pada satu garis lurus dengan cara membidikaan kompas ke depan dan ke belakang pada jarak tertentu.

Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
  1. Titik awal dan titik akhir perjalanan di plot di peta, tarik garis lurus dan hitung sudut yang menjadi arah perjalanan (sudut kompas). Hitung pula sudut dari titik akhir ke titik awal. Sudut ini dinamakan back azimuth.
  2. Perhatikan tanda medan yang menyolok pada titik awal perjalanan. Perhatikan tanda medan lain pada lintasan yang dilalui.
  3. Bidikkan kompas seusai dengan arah perjalanan kita, dan tentukan tanda medan lain di ujung lintasan/titik bidik. Sudut bidikan ini dinamakan azimuth.
  4. Pergi ke tanda medan di ujung lintasan, dan bidik kembali ke titik pertama tadi, untuk mengecek apakah arah perjalanan sudah sesuai dengan sudut kompas (back azimuth).
  5. Sering terjadi tidak ada benda/tanda medan tertentu yang dapat dijadikan sebagai sasaran. Untuk itu dapat dibantu oleh seorang rekan sebagai tanda. Sistem pergerakan semacam ini sering disebut sebagai sistem man to man.

Merencanakan Jalur Lintasan

Dalam navigasi darat tingkat lanjut, kita diharapkan dapat menyusun perencanaan jalur lintasan dalam sebuah medan perjalanan. Sebagai contoh anda misalnya ingin pergi ke suatu gunung, tapi dengan menggunakan jalur sendiri.

Penyusunan jalur ini dibutuhkan kepekaan yang tinggi, dalam menafsirkan sebuah peta topografi, mengumpulkan data dan informasi dan mengolahnya sehingga anda dapat menyusun sebuah perencanaan perjalanan yang matang. Dalam proses perjalanan secara keseluruhan, mulai dari transportasi sampai pembiayaan, disini kita akan membahas khusus tentang perencanaan pembuatan medan lintasan. Ada beberapa hal yang dapat dijadikan bahan pertimbangan sebelum anda memplot jalur lintasan.

Pertama, anda harus membekali dulu kemampuan untuk membaca peta, kemampuan untuk menafsirkan tanda-tanda medan yang tertera di peta, dan kemampuan dasar navigasi darat lain seperti resection, intersection, azimuth back azimuth, pengetahuan tentang peta kompas, dan sebagainya, minimal sebagaimana yang tercantum dalam bagian sebelum ini.

Kedua, selain informasi yang tertera dipeta, akan lebih membantu dalam perencanaan jika anda punya informasi tambahan lain tentang medan lintasan yang akan anda plot. Misalnya keterangan rekan yang pernah melewati medan tersebut, kondisi medan, vegetasi dan airnya. Semakin banyak informasi awal yang anda dapat, semakin matang rencana anda.

Tentang jalurnya sendiri, ada beberapa macam jalur lintasan yang akan kita buat. Pertama adalah tipe garis lurus, yakni jalur lintasan berupa garis yang ditarik lurus antara titik awal dan titik akhir. Kedua, tipe garis lurus dengan titik belok, yakni jalur lintasan masih berupa garis lurus, tapi lebih fleksibel karena pada titik-titik tertentu kita berbelok dengan menyesuaian kondisi medan. Yang ketiga dengan guide/patokan tanda medan tertentu, misalnya guide punggungan/guide lembahan/guide sungai. Jalur ini lebih fleksibel karena tidak lurus benar, tapi menyesuaikan kondisi medan, dengan tetap berpatokan tanda medan tertentu sebagai petokan pergerakannya.

Untuk membuat jalur lintasan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
  1. Usahakan titik awal dan titik akhir adalah tanda medan yang ekstrim, dan memungkinkan untuk resection dari titik-titik tersebut.
  2. Titik awal harus mudah dicapai/gampang aksesnya
  3. Disepanjang jalur lintasan harus ada tanda medan yang memadai untuk dijadikan sebagai patokan, sehingga dalam perjalanan nanti anda dapat menentukan posisi anda di peta sesering mungkin.
  4. Dalam menentukan jalur lintasan, perhatikan kebutuhan air, kecepatan pergerakan vegetasi yang berada dijalur lintasan, serta kondisi medan lintasan. Anda harus bisa memperkirakan hari ke berapa akan menemukan air, hari ke berapa medannya berupa tanjakan terjal dan sebagainya.
  5. Mengingat banyaknya faktor yang perlu diperhatikan, usahakan untuk selalu berdiskusi dengan regu atau dengan orang yang sudah pernah melewati jalur tersebut sehingga resiko bisa diminimalkan.

Penampang Lintasan

Penampang lintasan adalah penggambaran secara proporsional bentuk jalur lintasan jika dilihat dari samping, dengan menggunakan garis kontur sebagai acuan. Sebagaimana kita ketahui bahwa peta topografi yang dua dimensi, dan sudut pendangnya dari atas, agak sulit bagi kita untuk membayangkan bagaimana bentuk medan lintasan yang sebenarnya, terutama menyangkut ketinggian. Dalam kontur yang kerapatannya sedemikian rupa, bagaimana kira-kira bentuk di medan sebenarnya. Untuk memudahkan kita menggambarkan bentuk medan dari peta topografi yang ada, maka dibuatlah penampang lintasan.

Beberapa manfaat penampang lintasan :
  1. Sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun perencanaan perjalanan
  2. Memudahkan kita untuk menggambarkan kondisi keterjalan dan kecuraman medan
  3. Dapat mengetahui titik-titik ketinggian dan jarak dari tanda medan tertentu
  4. Untuk menyusun penampang lintasan biasanya menggunakan kertas milimeter block, guna menambah akurasi penerjemahan dari peta topografi ke penampang.

Langkah-langkah membuat penampang lintasan:
  1. Siapkan peta yang sudah diplot, kertas milimeter blok, pensil mekanik/pensil biasa yang runcing, penggaris dan penghapus
  2. Buatlah sumbu x, dan y. sumbu x mewakili jarak, dengan satuan rata-rata jarak dari lintasan yang anda buat. Misal meter atau kilometer. Sumbu y mewakili ketinggian, dengan satuan mdpl (meter diatas permukaan laut). Angkanya bisa dimulai dari titik terendah atau dibawahnya dan diakhiri titik tertinggi atau diatasnya.
  3. Tempatkan titik awal di sumbu x=0 dan sumbu y sesuai dengan ketinggian titik tersebut. Lalu peda perubahan kontur berikutnya, buatlah satu titik lagi, dengan jarak dan ketinggian sesuai dengan perubahan kontur pada jalur yang sudah anda buat. Demikian seterusnya hingga titik akhir.
  4. Perubahan satu kontur diwakili oleh satu titik. Titik-titik tersebut dihubungkan sat sama lainnya hingga membentuk penampang berupa garis menanjak, turun dan mendatar.
  5. Tembahkan keterangan pada tanda-tanda medan tertentu, misalkan nama-nama sungai, puncakan dan titik-titik aktivitas anda (biasanya berupa titik bivak dan titik istirahat), ataupun tanda medan lainnya. Tambahan informasi tentang vegetasi pada setiap lintasan, dan skala penampang akan lebih membantu pembaca dalam menggunakan penampang yang telah dibuat.


Ingatlah hai engkau penjelahan alam :
  1. Take nothing, but pictures [jangan ambil sesuatu kecuali gambar]
  2. Kill nothing, but times [jangan bunuh sesuatu kecuali waktu]
  3. Leave nothing, but foot-print [jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak kaki]

dan senantiasa ;
  1. Percaya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa
  2. Percaya kepada kawan [dalam hal ini kawan adalah rekan pegiat dan peralatan serta perlengkapan, tentu saja juga harus dibarengi bahwa diri kita sendiri juga dapat dipercaya oleh “teman” tersebut dengan menjaga, memelihara dan melindunginya]
  3. Percaya kepada diri sendiri, yaitu percaya bahwa kita mampu melakukan segala sesuatunya dengan baik.
Continue Reading

Penyakit Dalam Pendakian dan Cara Mengatasinya

Kamis, 15 November 2012 | 0 komentar



Aktivitas petualangan di musim hujan, seperti pendakian gunung otomatis akan meningkatkan derajat bahayanya akibat gejala alam ini. Apalagi bila musim liburan tiba. Seperti tak mau kehilangan kesempatan emas, banyak pendaki gunung tetap nekat menyalurkan hobi petualangannya tanpa mempedulikan kondisi cuaca.

Ancaman Hypothermia

Cuaca di gunung memang tidak bisa ditebak. Apalagi pada bulan-bulan basah. Meski gunung di Indonesia rata-rata hanya berketinggian sekitar 3.000 m dpl, tetapi pada musim hujan, badai gunung yang menyertai hujan sering menyerang dan mampu menurunkan suhu udara hingga mencapai di bawah titik beku atau di bawah 0 derajat celcius.
Bagi para pendaki gunung yang tidak siap dengan fisik, mental serta perlengkapan yang memadai, kondisi ini bisa menjadi sebuah malapetaka besar. Karena suhu udara sedingin itu, merupakan kondisi yang sangat asing bagi tubuh manusia, apalagi bagi orang-orang yang tinggal di daerah tropis seperti Indonesia.

Hypothermia merupakan salah satu gejala penyakit di ketinggian yang sering menyerang para pendaki gunung. Bahkan di Indonesia, hypothermia menduduki peringkat teratas sebagai ancaman maut serta “hantu” pencabut nyawa paling kejam bagi para pendaki gunung. Lalu apa dan bagaimana sebenarnya hypothermia itu hingga bisa menjadi ancaman bak momok yang menakutkan bagi para pendaki gunung?

Penyakit hypothermia merupakan satu dari sejumlah penyakit di ketinggian seperti mountain sickness atau hipoksia (kekurangan pasokan oksigen ke tubuh), edema baru dan dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh. Hypothermia sering menyerang para pendaki gunung yang kurang melengkapi diri dengan perlengkapan penahan dingin atau penghangat badan seperti sweater, jaket, kaos kaki, balaclava, sarung tangan, tenda dsb.

Tetapi kadang juga kerap terjadi, pendaki gunung yang sudah melengkapi diri dengan perlengkapan penahan dingin tetap saja terkena hypothermia. Hal ini biasanya terjadi karena seluruh pakaian yang dikenakan telah basah kuyup diterpa hujan. Pendaki ini biasanya kurang melengkapi diri dengan perlengkapan penahan air atau hujan seperti rain coat, ponco (jas hujan), payung atau tenda yang memadai.

Pakaian yang basah akan mengurangi insulasi (kemampuan untuk menahan panas badan) sampai 90%. Kasus hypothermia yang disebabkan pakaian basah inilah sebenarnya yang paling sering meminta korban pendaki gunung di Indonesia.

Preventif Hypothermia

Seperti penyakit-penyakit gunung lainnya, hypothermia merupakan faktor bahaya yang sebenarnya dapat diperhitungkan sebelum melakukan kegiatan pendakian atau lebih dikenal dengan istilah subjective danger. Seorang pendaki yang sudah mempersiapkan fisik maupun perlengkapannya akan lebih mudah menghadapi bahaya-bahaya yang mungkin akan muncul.

Suatu hal yang harus diingat, janganlah memulai persiapan itu ketika gejala-gejala penyakitnya muncul di gunung. Persiapan itu harus sudah dimulai sejak masih di rumah, yakni dengan memiliki pengetahuan tentang bahaya yang potensial muncul, cara penanggulangan apa saja yang dibutuhkan.

Kecuali mempersiapkan diri dengan perlengkapan penahan dingin dan anti air berkualitas baik, ada beberapa hal pokok mendasar yang perlu diketahui mengenai hypothermia. Selalu menjaga suhu tubuh pada suhu normal pada kisaran 37 derajat celcius, merupakan hal utama untuk menghindari hypothermia.

Sebenarnya secara alamiah tubuh manusia akan selalu menjaga panasnya dengan beberapa cara, salah satunya melalui pencernaan makanan. Makanan yang masuk ke dalam tubuh menghasilkan panas melalui oksidasi, dan ini terutama penting bagi tubuh ketika sedang beristirahat. Panas yang berasal dari pencernaan makanan ini akan dihasilkan lebih banyak lagi oleh tubuh ketika sedang bergerak.

Penanganan Hypothermia

Orang yang terkena hypothermia akan menunjukkan gejala-gejala sesuai dengan tingkat penurunan suhu tubuh. Kehilangan kesadaran, misalnya akan menyebabkan apa yang disebut dengan paradocixal feeling of warmth. Pada kondisi ini, penderita hypothermia justru akan merasakan hal yang sebaliknya, yaitu rasa panas lalu tanpa sadar seluruh pakaian ditanggalkan sendiri. Sehingga amat sering dijumpai penderita atau korban hypothermia meninggal ditemukan dalam kondisi telanjang bulat.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menangani penderita hypothermia. Pertama adalah mencari dan memindahkan korban ke tempat yang kering dan terlindung dari angin dan air. Kemudian sebelum diberikan minuman yang hangat dan manis, usahakan baju basah korban diganti dengan yang kering. Lalu, masukkan korban ke dalam sleeping bag kering yang sebelumnya telah dihangatkan dengan cara memasukkan tubuh telanjang beberapa orang sehat (bersuhu normal).

Tindakan selanjutnya adalah, memasukkan botol berisi air hangat ke dalam sleeping bag untuk membantu memanaskan tubuh korban. Kalau sleeping bag cukup lebar, lakukan transfer panas tubuh orang sehat ke korban dengan cara dua orang ikut masuk ke dalam sleeping bag dan mengapit korban. Usahakan membuat api di kedua sisi korban, dan jangan biarkan korban hypothermia tertidur.

Tidur akan membuat penderita hypothermia kehilangan kesadaran dan tak mampu lagi memanaskan tubuhnya secara alami. Biarkan dia mengigil dan segera beri minuman hangat dan makanan manis setelah korban sadar. Hidrat arang dalam makanan itu merupakan bahan bakar yang cepat sekali menghasilkan panas dan tenaga.

Penyakit Akut Gunung

Secara hukum fisika, daerah pegunungan sangatlah berbeda kondisinya dibandingkan dengan daerah dataran rendah. Perbedaan ketinggian tempat ini berakibat munculnya perbedaan kondisi lingkungan setempat. Perbedaan yang sangat esensial misalnya berupa tekanan udara. Tekanan udara di dataran rendah lebih tinggi dibanding dengan pegunungan (dataran tinggi). Semakin tinggi suatu tempat semakin maka rendah tekanan udaranya. Hal ini berhubungan dengan faktor adanya gaya gravitasi bumi yang ditimbulkan.

Gravitasi di dataran rendah menjadi lebih tinggi karena kedekatannya dengan pusat bumi, sedangkan semakin daerah itu tinggi maka semakin pula menjauhi pusat bumi. Jauhnya dengan pusat bumi berakibat gaya gravitasinya semakin lemah. Lemahnya gravitasi ini memunculkan tekanan udara menjadi semakin lemah pula. Tekanan udara yang rendah ini berakibat kandungan oksigen pada lingkungan udara setempat menjadi rendah.

Kandungan oksigen di lingkungan tempat tinggi (gunung) berdampak terhadap kondisi fisiologis seorang pendaki gunung menjadi terganggu. Dampak rendahnya oksigen lingkungan ini bagi pendaki gunung mula-mula dirasakan berupa sesak nafas, selanjutnya yang dirasakan dapat pula berupa adanya semacam halusinasi yang diakibatkan mulai berkurangnya oksigen yang menuju ke otak.

Keadaan semacam ini sering membawa akibat yang tidak di inginkan
pada para pendaki gunung. Gangguan tersebut terumatama mulai terasa pada
ketinggian 2000 meter dari atas permukaan laut. Tetapi timbulnya
reaksi-reaksi itu tergantung kepada daya tahan dan daya pengesuaian
perorangan.

Jika hal ini terus berlanjut muncul efek yang sangat berbahaya yaitu hilangnya ingatan (amnesia) akibat hipoksia otak, kondisi ini membawa dampak tersesatnya seorang pendaki karena ingatan terhadap medan pendakian menjadi hilang, kemudian muncul pula halusinasi yang dapat berakibat seseorang bisa tanpa sadar menuju daerah yang berbahaya yang biasanya berupa jurang.

Kondisi tersebut di atas bertambah berat karena timbul dampak lain dari rendahnya oksigen lingkungan ini, yang berupa meningkatnya jumlah eritrosit dengan cepat (eritropoeisis) sehingga terjadi polisitemia (kadar eritrosit di atas harga normal). Polisitemia ini membawa pengaruh munculnya viskositas (kekentalan darah) meningkat, sehingga aliran darah menjadi lambat dan tekanan darah menjadi meningkat serta frekuensi denyut jantung meningkat, sehingga pendaki gunung merasa berdebar-debar jantungnya serta memperparah kondisi hipoksia otak.

Keadaan semacam ini biasanya dialami oleh seseorang yang mendaki gunung dengan tidak memperhatikan adaptasi gradual (bertahap) yaitu dengan cara beristirahat sesaat di pos-pos peristirahatan. Pos peristirahatan ini selain berfungsi untuk memulihkan kondisi kelelahan juga berfungsi untuk mengadaptasikan fisiologis tubuh terhadap perubahan lingkungan secara bertahap sehingga tubuh tidak kaget terhadap perubahan ini dan reaksi tubuh akan memberikan respons yang tidak akut (sekonyong-konyong mendadak).

Jika tahap adaptasi gradual ini ditempuh dengan baik maka resiko mountain sickness ini tidak akan terjadi dan kegiatan mendaki gunung benar-benar mengasyikkan.

GEJALA MOUNTAIN SICKNESS

Penderita mula-mula merasa pusing, sakit kepala, letih, mengantuk,
kedinginan, mual dan muntah-muntah, pucat, dan sesak nafaas. Kemudian di
ikuti perasaan panas, gelisah, kuping berdenging, susah berkonsentrasi
dan susah

MOUNTAIN SICKNESS akut yang di sertai kelainan paru-paru
Gangguan yang serius biasanya terjadi pada ketinggian 3000 meter atau
lebih. Gejalanya muncul 6-36 jam sesudag tiba di tempat tersebut.

Tanda-tandanyanya :
- batuk -batuk kering
- Sesak nafas juga pada waktu istirahat
- dada serasa tertekan
- mungkin batuk darah

Denyut nadi makin cepat, penderita nampak pucat dan membiru, kemudian
pingsan.

PERTOLONGAN YANG DAPAT DILAKUKAN…

Pada umumnya dengan beristirahat dengan kepala lebih rendah dari bagian tubuh lainnya, gejala-gejala akan menghilang dalam waktu 24-48 jam. Bila perlu beri pernafasan buatan Tetapi bila tidak berhasil penderita harus di bawa kembali ketempat yang lebih rendah. dan segera bawa ke dokter terdekat.
Continue Reading

Obat Yang Harus Dibawa Saat Petualangan

| 1komentar


Perjalanan petualangan adalah kegiatan yang menyenangkan, dan oleh karena itu sering kita melupakan hal yang sederhana tetapi justru penting dalam mendukung perjalanan petualangan Anda. Barang sederhana tetapi penting tersebut adalah obat - obatan. Saat perjalanan petualangan, Anda bersenang - senang, jangan sampai Anda sakit sehingga membatalkan perjalanan Anda. Dan berikut ini obat yang harus dibawa dalam petualangan.

1. OBAT DEMAM
Demam bisa datang pada saat Anda terlalu lelah atau kurang istirahat. Biasanya, menyerang pada saat malam hari. Jangan sampai Anda kerepotan mencari obat demam pada tengah malam. Masukkan obat ini ke dalam daftar wajib bawaan Anda.

2.
OBAT SAKIT KEPALA
Berada di luar ruangan seharian tentu akan membuat stamina tubuh menurun. Apalagi daerah tujuan petualangan Anda adalah tempat yang panas. Sakit kepala pun tidak terhindarkan. Selain panas, pusing juga bisa disebabkan karena mabuk perjalanan. Sediakan obat ini untuk berjaga - jaga saat kepala mulai tidak bersahabat.

3.
JAMU MASUK ANGIN
Masuk angin adalah penyakit klasik yang semua orang pernah alami. Rasanya tidak enak, mual dan pusing. Anda pun tidak bisa melakukan apa - apa saat sedang terkena masuk angin. Penyakit ini biasanya disebabkan karena terkena angin terlalu lama, perut yang kosong dan kondisi badan yang sedang menurun. Beberapa merk jamu sudah membuat jamu masuk angin yang mudah untuk dibawa. Ada yang cair, bubuk, bahkan permen. Jamu masuk angin pun sudah mudah ditemui di toko obat atau supermarket.

4.
OBAT SAKIT PERUT
Sakit perut bisa timbul karena salah makan, telat makan, dan penyakit maag. Jika Anda tidak terbiasa makan terlalu pedas atau terlalu asam, perut pun akan bergejolak. Akibatnya, perut akan mulas, maag kambuh atau bahkan diare. Jangan sampai Anda tersiksa terlalu lama karena tidak punya obat sakit perut. Selalu bawa obat perut saat Anda berpetualang. Masukkan di dalam tas dan Anda pun bisa berkegiatan dengan aman.

5.
VITAMIN DAN MADU
Agar tetap sehat, Anda memang perlu vitamin, terutama vitamin C. Saat ini, vitamin bisa dibeli dalam berbagai macam jenis. Ada vitamin hisap, cair dan tablet, tinggal pilih. Selain vitamin, salah satu pendukung kesehatan lainnya adalah madu. Madu bisa membantu menjaga kesehatan, juga bisa sebagai penahan lapar. Rasanya yang manis juga membuatnya bisa dicampur dengan susu atau teh. Jadi, Anda pun bisa sehat dalam cara yang menyenangkan, bukan?

6.
PLESTER DAN ALKOHOL
Perjalanan backpacker atau mendaki gunung sama - sama memiliki risiko terluka. Terantuk batu atau tergores dahan bisa jadi salah satu kemungkinan Anda mendapat luka. Meski kecil, luka terbuka cukup berbahaya jika tidak segera diobati. Untuk pertolongan pertama, Anda bisa membasuh luka dengan alkohol 70 persen dan kemudian menutupnya dengan plester. Pastikan Anda tidak lupa membawa dua barang penting ini saat perjalanan petualangan.

7.
KAYU PUTIH
Barang terakhir yang tidak kalah penting adalah kayu putih. Kegunaannya yang banyak membuat obat ini menjadi barang wajib bawa saat perjalanan. Kayu putih bisa menjadi penolong saat sedang kembung, udara dingin, terkena gigitan serangga dan obat saat mabuk perjalanan. Dengan khasiatnya tersebut, sudah pasti kayu putih harus masuk dalam tas petualangan Anda.
Continue Reading

Video Ekspedisi Semeru 26-29 Desember 2011

| 0 komentar



Eskpedisi ke gunung semeru hippalas sman 17 surabaya 
tgl. 26 -29 Desember 2011

video bagian 1

 


Video bagian 2



Continue Reading

Tips Jika Tergigit atau Tersengat Hewan Liar

| 0 komentar



Apabila Anda seorang petualang pasti akrab dengan alam liar berikut isinya. Dan bagian dari alam liar antara lain adalah hewan liar. Ada kalanya faktor tidak beruntung menghampiri kita, yakni bisa tergigit atau tersengat hewan liar. Sering kali kita abaikan, padahal bisa berakibat fatal.


Bagi beberapa kasus pertolongan medis adalah hal pertama yang harus Anda ingat. Terutama bila terkena sengatan di mulut atau tenggorokan, pembengkakan dalam waktu singkat, kesulitan bernafas, detak jantung yang meningkat drastis, atau keringat yang berlebihan.

Dan berikut
tips bila tergigit atau tersengat hewan liar.
LEBAH DAN TAWON.

Dua hewan ini biasa meninggalkan kantung bisa bersamaan dengan alat sengat yang menusuk kulit. Keluarkan perlahan benda ini menggunakan pinset, namun pastikan racun dari kantung tak keluar ke dalam luka. Kompres menggunakan es atau kain lembab untuk pereda rasa nyeri.

KUTU.

Walaupun kecil, keberadaannya sering membawa penyakit seperti ruam dan demam. Tarik kepala serangga ini menggunakan pinset. Hindari bagian tubuhnya agar tidak pecah dan menyebarkan kuman. Anda bisa menariknya dengan cara memutar agar lebih mudah terangkat.

LINTAH.

Hindari menarik, merobek, atau berusaha melepas hewan ini dari kulit Anda. Kulit bisa robek dan luka yang ditimbulkan akan semakin serius. Coba tuangkan alkohol, luka, atau garam terutama di bagian mulut lintah. Setelah lintah lepas, bersihkan luka menggunakan antiseptik dan tekan sampai pendarahan berhenti.

UBUR - UBUR.

Sebisa mungkin cepatlah keluar dari air. Menggunakan pinset, cabutlah sisa - sisa tentakel yang menempel di kulit. Tuangkan cuka untuk menghentikan sisa sengatan. Jangan cuci area sengatan menggunakan air tawar, apalagi menggosoknya. Rasa sakitnya bisa bertambah berkali - kali lipat!

ULAR.

Usahakan bergerak seminim mungkin karena pergerakan tubuh akan mempercepat penyebaran racun. Ikat anggota badan yang tergigit menggunakan sabuk atau kain. Jangan lupa ingat jenis, bentuk dan warna ular yang menggigit Anda agar petugas medis memberi zat antiracun yang tepat.

  
Untuk Penanganan pertama adalah :

1. Jangan panik
Hal pertama yang harus dilakukan dan sangat penting adalah jangan panik. Sang korban gigitan boleh saja teriak kaget dan tiba - tiba berubah panik ketika kakinya digigit ular, tapi ini tidak boleh terjadi oleh Anda.

Sebagai rekan kelompok, Anda dan teman lain harus tenang, jangan ikut - ikutan panik apalagi histeris. Panik hanya membuat pikiran jadi buntu, Anda pun akan lupa dengan pertolongan pertama yang seharusnya dilakukan. Jangan lupa juga untuk menenangkan sang korban, ya!

2. Segera ikat bagian atas dan bawah gigitan
Hal kedua yang harus segera Anda lakukan adalah segera ikan bagian atas dan bawah luka gigitan dengan kain. Ikat dengan kencang agar bisa ular tidak menyebar ke tempat lain.

3. Jangan sekali - kali menghisap darah 
Ini dia hal penting yang harus Anda perhatikan saat melihat seorang teman digigit ular, jangan pernah sekali - kali menghisap darah yang keluar dari luka bekas gigitan. Mungkin hal ini memang sering muncul di banyak tayangan televisi, tapi itu sangat tidak disarankan.

Kenapa? Karena Anda tidak pernah tahu dengan pasti apakah ular yang menggigit itu berbisa mematikan atau tidak. Selain itu, Anda juga tidak tahu dengan pasti apakah bagian mulut Anda ada luka kecil, atau pun gigi yang berlubang. Bahayanya, kalau ular itu benar berbisa dan ada luka kecil di bagian mulut, bisa jadi bisa itu masuk dan menjalar ke tubuh Anda. Hii!

4. Usahakan bagian yang digigit dalam posisi datar
Selain mengikat bagian yang digigit dengan kencang, perhatikan juga posisinya datar. Ini untuk menghindari lebih banyaknya darah yang keluar dari luka. Ini juga menghindari bisa ular mengalir lebih cepat mengikuti aliran darah.

Jika bagian kaki yang digigit, sebaiknya gotong tubuh sang korban. Jangan biarkan jalan sendiri karena bisa menambah parah pendarahan.


5. Segera bawa korban ke rumah sakit 
Setelah 4 langkah di atas sudah dilakukan, saatnya membawa korban ke rumah sakit atau puskesmas terdekat. Jangan biarkan waktu digigit dengan penanganan serius dari pihak medis terlalu lama. Ini bisa membahayakan kondisi sang korban.






Continue Reading

Tips Memilih Sepatu Gunung

| 3komentar


Bila memiliki sepatu gunung  pastikan melihat ukuran, harus lebih besar dari sepatu sehari - hari yang biasa kita gunakan. Misalnya jika ukuran sepatu sahabat semua 39, lalu pilihlah sepatu gunung yang berukuran 41. Itu untuk menghindari luka di kaki dan juga memudahkan kita memakai kaus kaki lebih tebal guna menghangatkan kaki di rimba raya.

Dan juga sepatu pendakian gunung harus lah berleher panjang untuk melindungi kaki dari benturan dan goncangan batu misalnya yang sering di jumpai saat pendakian gunung. Tetapi juga jangan berlebihan dengan memakai sepatu tentara yang berleher terlalu tinggi, karena menyebabkan udara tak bisa keluar dan akan menjadi lembab dan juga kaki pasti bau. Jangan suka mencium kaki sebaiknya ya..

Proses sirkulasi udara terutama akan terjadi apabila si pendaki memakai kaos kaki dari wool. Ketika sipendaki melangkah, udara didalam kaos kaki wool akan keluar. Pada langkah berikutnya, udara segar akan meresap dalam kaos kaki itu. Kalau leher sepatu tinggi, proses ini tidak berjalan dan kaki secara akumulatif akan lembab.

Pada sepatu mendaki gunung yang baik, bagian tepi lehernya selalu dilapisi bahan yang lebih lunak dan menebal, sehingga menghindarkan kemungkinan lecet pada kulit kaki sebagai akibat gesekan tepian leher yang keras. Apabila anda memakai sepatu yang masih baru, berhati -  hatilah terhadap kemungkinan lecet pada tumit kaki.

Sepatu merupakan perlengkapan penting dalam mendaki gunung. Sepatu akan menutupi dan melindungi kaki agar tak terluka oleh batu batu tajam, kayu runcing, atau duri yang terdapat sepanjang perjalanan. Sepatu juga memberi dukungan yang lebih baik untuk seluruh kaki.

Terutama apabila si pendaki membawa beban yang sangat berat, pergelangan kaki yang ditunjang dengan sepatu. Jauh lebih baik dari pada dibiarkan telanjang. Telapak kakipun akan lebih kuat kalau dilindungi sepatu. Ruangan yang ada didalam sepatu merupakan tempat yang aman dan hangat bagi kaki - kaki yang sering berjalan.

Sepatu untuk mendaki harus memiliki sol yang baik. Yaitu mempunyai kembang yang besar dengan ceruk yang tajam serta berpunggung tinggi. Sol seperti ini berguna sekali untuk meletakan kaki secara mantap pada tebing - tebing curam yang berbatu. Amat membantu kaki untuk menahan berat badan pendaki. Sepatu tanpa tumit tidak baik untuk mendaki gunung.

Tumit sepatu banyak berguna untuk menahan laju badan ketika menuruni lereng - lereng gunung. Karena itu pilihlah sepatu dengan tumit yang besar dan kuat. Pakailah sepatu dengan sol dan tumit yang terbuat karet atau sintetis serupa, karena bahan ini lebih “ mengigit” tahan lama, lentur dan kuat. Jangan memakai sepatu dengan sol yang dari kulit. Karena mudah sekali tergelincir pada tanah basah, rumput, atau batu - batu yang licin.

Sepatu olah raga dari kanvas tidak baik untuk mendaki gunung. Sepatu tidak mempunyai sol yang kuat dan dapat melindungi telapak kaki. Lagi pula mudah meleset pada batu - batu basah dan tanah berumput. Terutama pada gunung atau bukit berbatu. Sol sepatu jenis ini akan cepat tipis dan telapak kaki terasa sakit apabila menginjak batu.

Sepatu gunung yang terbuat dari kulit atau kulit sintetis, merupakan pilihan yang tepat. Kulit atau sintetis kulit merupakan bahan yang kuat dan tahan lama, tetapi merawatnya harus rajin sekali. Sepatu yang terbuat dari kanvas memang ringan, tetapi bahannya tidak kuat dan gampang sobek bila terkena kayu atau batu tajam.

Bahan ini juga mudah lapuk, lebih - lebih bila tak segera dibersihkan setelah melewati medan berlumpur. Jangan sekali - kali memakai sepatu yang seluruhnya terbuat dari karet. Karena bahan ini menyebabkan keringat di dalam terkumpul dan tidak memberi peluang untuk keluar.

Kaki didalam sepatu karet akan segera menjadi pasien yang harus dirawat. Ada baiknya bertindak dini yaitu melekatkan plester secukupnya pada tumit kaki agar kulit tak langsung bergeser dengan bagian sepatu yang keras itu. Barulah kemudian anda memakai kaos kaki.

Selalu pakai kaos kaki rangkap dua. Pertama - tama, bungkuslah kaki dengan kaos kaki dari sutera atau katun. Diatas kaos kaki itu, pakailah lagi kaos kaki dari wool. Wool adalah bahan yg terbaik untuk menjaga kehangatan, kendati dalam keadaan basah sekalipun.

Tetapi kaos kaki wool dapat bergeser menyebabkan kulit kaki lecet. Karena itu diperlukan kaos kaki dari sutera atau katun untuk menghalangi geseran itu langsung terhadap kulit. Sutera atau katun itu sendiri mampu menghangatkan kaki dan menyerap keringat. Sehingga kulit akan basah dan gampang lecet.

Usahakan membawa kaos kaki cukup banyak. Ini penting untuk menjaga agar kaki selalu dalam keadaan bersih. Yaitu dengan selalu mengganti kaos kaki setiap dirasakan perlu. Terutama apabila kulit kaki lecet atau luka. Sehingga dikhawatirkan akan terjadi infeksi. Warna putih akan mudah memperlihatkan apakah kaos kaki itu masih bersih atau sudah kotor.

Perlengkapan lain yang kerap dipakai untuk melindungi kaki adalah Gaiter yang terbuat dari bahan kedap air. Gaiter melingkari kaki mulai dari bagian bawah sepatu hingga dekat lutut. Perlengkapan ini sebetulnya dipakai untuk melindungi kaki agar salju atau es tidak masuk kedalam sepatu. Akan tetapi untuk gunung - gunung tak bersalju, geiter berguna pula untuk mencegah agar batu - batu kerikil tidak menyusup kedalam sepatu. Lagi pula geiter membantu menutupi celah antara sepatu dengan ujung celana terhadap tiupan angin yang dingin.

Sepatu harus dirawat dengan baik. Ada beberapa minyak khusus untuk menjaga agar kulit sepatu tetap baik dan tidak keras. Serta jahitannya tak gampang lepas. Sayang di Indonesia tak banyak tempat yang menjual minyak sepeti itu, kecuali minyak goreng. Untuk itu cukup baik kiranya apabila sepatu mendaki gunung secara teratur digosok dengan semir - semir yang ada di pasaran.

Sepatu kulit yang basah harus dikeringkan secara berhati - hati. Tindakan yang salah ialah mengeringkan sepatu itu dengan menjemurnya langsung di bawah sinar matahari. Lebih - lebih apabila dikeringkan di dekat api. Sepatu itu akan menjadi keras dan menjadikan kaki sakit. Sepatu yang dikeringkan dekat - dekat api, selain menjadi keras juga akan mudah menjadi “kerupuk kulit” bila lupa mengangkat tepat pada waktunya.

Letakkan sepatu ditempat yang teduh dan banyak angin. Biarkan tiupan angin membuat kering sepatu itu secara perlahan - lahan. Agar bagian dalamnya cepat kering pula, masukan kertas Koran secukupnya kedalam sepatu. Kertas koran ini akan menyerap air yang menempel di kulit sepatu bagian dalam. Dengan cara ini, sepatu anda akan kering secara normal dan kulitnya tetap lemas.

Pada waktu sepatu tidak digunakan jangan biarkan kaos kaki berada didalamnya. Kaos kaki yang kotor dan lembab menyebabkan ruangan didalam sepatu tidak sehat. Di alam terbuka, letakan sepatu diujung kayu yang ditancap ditanah, sehingga mulutnya menghadap kebawah. Bila hujan, sepatu itu tidak akan penuh terisi air. Posisi seperti itu juga menyulitkan binatang - binatang kecil yang tertarik untuk masuk ke dalam sepatu.

Bawalah beberapa tali sepatu sebagai cadangan sebab tak jarang sepatu yang terpasang tiba - tiba putus talinya. Sepatu gunung yang baik mempunyai tali sepatu yang kuat. Apabila tali sepatu yang anda punya kurang kuat, carilah tali nilon bekas parasut yang banyak tersedia di tempat - tempat penjualan perlengkapan tentara. Tali sepatu yang kuat seperti tali nilon bekas parasut dapat digunakan untuk membuat simpul prusik. Manfaatnya akan terasa besar sekali di saat - saat tertentu.
Continue Reading

Tanda-tanda Kekurangan Oksigen di Gunung dan Cara Mengatasinya

| 0 komentar



Berada di ketinggian dengan oksigen yang sedikit bisa memicu kondisi hipoksia, yakni ketika tubuh kekurangan pasokan oksigen. Para pendaki gunung harus mengenali tanda-tandanya, serta cara mengatasi jika mengalami kondisi tersebut.


Tanda-tanda hipoksia atau kekurangan oksigen antara lain :
  1. pandangan kabur, pernapasan makin cepat atau tersengal-sengal, serta tubuh menjadi lemas,"
  2. Frekuensi pernapasan yang meningkat terjadi karena tubuh berusaha memenuhi kebutuhan oksigen. Tidak hanya memaksa paru-paru bekerja lebih keras, kondisi ini juga mempengaruhi jantung yang harus bekerja keras memompa oksigen dalam darah yang hanya sedikit itu untuk didistribusikan ke seluruh tubuh.
  3. Selain dari gejala fisik, kondisi hipoksia juga bisa dikenali dari perubahan perilaku. Dalam kondisi hipoksia, otak juga akan kekurangan oksigen sehingga pola pikir seorang pendaki berubah menjadi kacau dan sulit membuat keputusan yang tepat.
"Dalam keadaan hipoksia, yang dominan hanya emosi dan ini sangat mempengaruhi pengambilan keputusan. Makanya para pendaki sering tersesat, salah satunya karena otak tidak mendapatkan oksigen yang cukup untuk bisa bekerja dengna baik,

Pertolongan pertama ketika menghadapi kondisi ini adalah :
  1. Dengan memberikan oksigen. Tabung oksigen berukuran kecil yang bisa dibawa ke mana-mana sangat mudah diperoleh di apotek dengan harga terjangkau, sehingga tidak ada salahnya para pendaki melengkapi diri dengan alat ini.
  2. Semua pakaian harus dilonggarkan agar pernapasan menjadi lebih lancar. Kerah baju harus dibuka, ikat pinggang dilepas dan juga bra pada perempuan mau tidak mau harus dilepas supaya saluran napasnya tidak sesak.
  3. Namun yang terpenting dari semua itu adalah, sesegera mungkin pendaki yang mengalami hipoksia harus dibawa ke lokasi yang lebih rendah supaya mendapat oksigen lebih banyak dari udara pernapasan. Makin lama berada dalam kondisi hipoksia, makin besar risiko kerusakan organ karena tidak mendapat suplai oksigen.

Daya tahan seseorang saat berada dalam kondisi hipoksia sangat beragam, salah satunya dipengaruhi oleh kadar sel darah merah serta hemoglobin. Orang-orang yang sehari-hari tinggal di gunung secara alamiah lebih tahan terhadap hipoksia karena sel darah merahnya lebih banyak.
Continue Reading
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. forum komunikasi pecinta alam sman 17 surabaya - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger